Latest Entries »

Khaosan Road di malam hari

Setiba di stasiun Hualamphong senja hari, kami kembali ke Train Inn untuk mengambil tas yang sebelumnya kami titipkan di sana. Nah kebingungan dimulai. Sebenarnya rencana kami adalah menuju ke daerah Khaosan, pusatnya backpacker berkumpul di Bangkok. Namun sebelumnya, kami harus ke Sai Tai Mai, terminal bus selatan Bangkok untuk membeli tiket yang akan membawa kami ke Krabi esok hari. Namun kami tidak punya petunjuk harus naik kendaraan apa untuk ke sana, dan juga berapa jauh jarak ke sana, termasuk apakah tiket untuk tujuan esok hari masih tersedia atau tidak. Oya sebagai pemberitahuan saja, ketika itu Thailand bagian selatan belum lama dihantam badai besar, sehingga kereta api tujuan selatan Bangkok berhenti beroperasi karena terendam banjir. Alternatifnya hanya naik pesawat atau naik bus, karena jalan tol nya tidak terendam banjir. sehingga asumsi saya, turis ketika itu pasti akan banyak yang menggunakan moda transportasi bus.

New Joe Guest House, Khaosan

Ketidak jelasan cara memperoleh tiket ke Krabi itulah yang membuat kami sempat sedikit galau saat itu. Akhirnya diputuskan untuk membeli tiket bus via travel agent yang letaknya tidak jauh dari stasiun Hualamphong. Harga tiket bus swasta yang dijual di travel agent ini memang lebih mahal bila dibandingkan dengan membeli tiket bus milik pemerintah di Sai Tai Mai (800 B : 600 B). Karena pertimbangan kepraktisan, dan jaminan memperoleh tiket bus, akhirnya kami putuskan untuk membeli via agent tersebut, keputusan yang akhirnya kami sesalkan kemudian. Kami juga menitipkan tas di travel agent ini, jadi ga perlu bawa tas banyak ke Khaosan.

Sebagai catatan, bus antar kota milik pemerintah di Thailand lebih direkomendasikan oleh banyak turis, karena memiliki standar pelayanan yang bagus, dan jauh dari ancaman scam.

Dari Hualamphong, kami menyewa tuk tuk menuju Khaosan. Setiba di Khaosan kami sempat bingung mencari New Joe Guest House, hostel yang sebelumnya sudah kami booking online. cukup lama kami berputar-putar mencari hostel ini, karena banyak gang kecil (Soi) di daerah Khaosan tersebut dan modelnya mirip-mirip semua. Singkat cerita kami menemukan hostel ini di ujung gang buntu.. luar biasa. Kamar yang kami View full article »

Hualamphong Station

Tanpa terasa sudah hampir satu tahun saya meninggalkan blog ini. Hampir setahun juga banyak cerita yang tidak bisa terekam dengan baik di blog. Update saya yang terakhir berisi artikel tentang kegiatan jalan-jalan bersama pacar dan adik ke Singapura, Thailand dan Malaysia. Banyak memori tentang detail jalan-jalan ketika itu yang sudah mulai hilang dari ingatan. Namun saya merasa masih berhutang kalau tidak menyelesaikan cerita jalan-jalan tersebut. Mungkin karena hutang itu juga, sampai hari ini saya seolah terkena “kutukan” batal pergi menggunakan tiket promo ke Langkawi dan ke Chiang Mai, padahal tiket sudah di tangan.

Ok terakhir cerita saya sudah sampai di Bangkok dengan selamat dan menginap di Train Inn, dekat stasiun kereta antar kota Bangkok, Hualampong. Kami menginap di dekat stasiun karena keesokan harinya berencana untuk mengunjungi kota tua Ayyuthaya, sekitar 2 jam perjalanan menggunakan kereta api ekonomi.

Kereta Ekonomi Bangkok – Ayutthaya

Singkat cerita keesokan harinya kami langsung check out dari hotel karena rencananya setelah kembali dari Ayutthaya, kami mau pindah menginap di daerah Khaosan Road, pusatnya backpacker di negeri Siam. Kebetulan Train Inn menyediakan jasa penitipan tas, sehingga kami cukup membawa barang seperlunya saja ke Ayutthaya.. yang pasti kamera ga boleh ketinggalan hehe.

Kereta ke Ayutthaya hanya ada satu jenis. Kereta kelas 3 yang penampakannya seperti kereta ekonomi antar kota di Indonesia. Harga tiketnya cukup murah, Rp 4.500 saja untuk perjalanan +/- 2 jam. Jangan dibayangkan kalau kereta ini bakalan sumpek seperti di Indonesia. Kami ketika itu menaiki gerbong paling belakang, dan isi penumpangnya cuma sekitar 10 orang saja. Kami bisa memilih tempat duduk sepuasnya, dan bisa melanjutkan tidur hehe. Pemandangan sepanjang perjalanan menurut saya tidak begitu indah, karena didominasi perkebunan tebu dan pabrik.

Wat Phra Si Sanphet

Ketika sampai di stasiun Ayutthaya kami langsung didekati oleh sopir tuk tuk yang mnawarkan jasa paket tour sehari penuh keliling Ayutthaya, termasuk biaya masuk obyek wisata. Sebelum berangkat memang saya sudah sempat cari-cari informasi mengenai paket tour tuk tuk ini. Dari beberapa milis backpacker memang informasinya masih simpang siur. Saya lupa ketika itu kena berapa harga, yang jelas harganya sudah kami tawar sekuat tenaga. Kalau tidak salah bertiga waktu itu kita kena 800 B (240rb), mahal ya buat sekedar one day tour. Ternyata area Ayutthaya cukup luas, untung kami tidak jadi keliling pakai sepeda, bisa gempor. Ayutthaya sendiri terdiri dari dua bagian, luar dan dalam, yang dipisahkan oleh sebuah parit/sungai buatan. Bentuk kota semacam ini tipikal kota tua di Thailand, mirip seperti di Chiang Mai.

Sehari itu kami diajak mengunjungi sekitar 8 kompleks kuil tua yang tersebar di Ayutthaya. Itupun kata drivernya kami belum mengunjungi semua kuil yang jumlah totalnya ada puluhan. Ayutthaya sendiri merupakan bekas kota kerajaan terbesar di Thailand. Karena diserang habis-habisan oleh bangsa Khmer dan Birma, akhirnya kota ini menjadi hancur. Kemudian rajanya memindahkan pusat kerajaan ke Thonburi (Bangkok), di tepi sungai Chao Phraya yang bertahan hingga kini.

Wat Mahathat

Sebagian besar kuil yang kami kunjungi, kondisinya rata-rata sudah tidak utuh lagi, karena serangan dari bangsa Burma dan Khmer ketka itu. Kuil/candi atau dalam bahasa  Siam disebut Wat ini sebagian besar dibuat dari susunan bata merah yang dibentuk menjulang tinggi. Saya sudah lupa dengan kisah detail dari masing-masing Wat yang kami kunjungi itu. Yang jelas masing-masing Wat ini memilki kisah menarik dari raja-raja yang pernah memimpin Ayutthaya ketika itu. Tapi saya masih ingat ada satu obyek yang cukup menarik, yaitu patung kepala Buddha yang dililit oleh akar pohon tua. Jika ingin berfoto dengan patung budha tersebut, kita harus berjongkok karena tinggi kita tidak boleh melebihi tinggi patung suci tersebut. View full article »

Glassy Suvarnabhumi

Pesawat “singa mlumpat” yang kami tumpangi berhasil mendarat di Suvarnabhumi Airport sekitar jam 7.30 malem. Setelah bermimpi-mimpi, akhirnya kami sukses menginjakkan kaki di Bangkok. Mungkin kami bukan orang pertama yang terkagum-kagum dengan keindahan arsitektur bandara Suvarnabhumi. Lengkungan besi baja yang kokoh berpadu dengan kaca, ditambah efek pencahayaan yang cantik. Setelah keluar dari garbarata, kami tidak langsung ke bagian imigrasi. Kami sempatkan untuk berfoto sejenak di setiap latar yang kami anggap menarik. Puas foto-foto, kami lanjut menuju gate imigrasi. Malam itu sebenarnya tidak terlalu banyak penumpang yang ngantri di bagian imigrasi, cuma dasarnya petugas imigrasinya aja yang lelet, jadi membuat kami tertatahan di antrian cukup lama. Beda banget deh sama petugas imigrasi di Changi yang sigap dan gesit melayani penumpang yang datang/pergi.

View full article »

Senin 4 April 2011. Hari terakhir kami di Singapura. Kami hanya punya waktu setengah hari untuk jalan-jalan, karena jam 3 sore sudah harus meluncur ke Changi. Hari itu kami jalani dengan santai aja. Badan rasanya masih belum kembali ke kondisi 100% setelah hari sebelumnya diforsir jalan kaki lumayan jauh. Rencana kami hari itu hanya mengunjungi Pulau Sentosa yang berlokasi di pantai selatan Singapura. Sebenarnya kami tidak terlalu tertarik untuk berkunjung ke Sentosa, karena di sana harganya terkenal serba mahal. Mulai dari transportasi, wahana wisata sampai makanan dan minuman. Ya kunjungan kami hari itu hanya untuk melihat sekilas aja seperti apa Pulau Sentosa itu, plus pengen foto di patung “Pak” Merlion, sebagai obat duka gara-gara ga bisa foto sama “Mami” Merlion sehari sebelumnya.

Outlet National Geographic

Dari Bugis, kami menggunakan MRT menuju Harbour Front, dengan sekali transit di stasiun Outram Park. Sampai di stasiun MRT Harbour Front, kami sempatkan mampir dulu ke Outlet National Geographic, di mall Vivo City, yang lokasinya terintegrasi dengan stasiun MRT. Dari outlet NG, kami lanjut naek ke lantai 3 Vivo City menuju stasiun monorail Sentosa Express. Harga tiket monorail Vivo City – Sentosa PP plus biaya masuk ke Sentosa Island kalo ga salah sekitar 3 SGD/orang. sampai di sentosa, kami turun di stasiun Waterfront. Hampir sebagai besar penumpang monorail turun di stasiun tersebut. Karena memang stasiun Waterfront adalah stasiun terdekat dengan wahana unggulan baru di Sentosa, yaitu… jreng… jreng… jreng…  Universal Studio Singapore. View full article »

Sebenarnya kalau ikut itinerary dari Claudia, setelah dari Chinatown, tujuan kami berikutnya adalah Clarke Quay dan Orchard Road. Tapi karena waktu yang semakin mepet, dan tenaga yang semakin terkuras setelah jalan kaki entah berapa puluh kilometer hari itu, maka kami memutuskan untuk men-skip dua obyek tadi. Maka tujuan kami selanjutnya adalah menikmati sunset di Marina Barrage.

Dari Chinatown kita langsung naek MRT ke Marina Bay dengan transit dulu di stasiun MRT Dhoby Ghaut. Sampai di stasiun MRT Marina Bay, kita lanjut dengan menumpang free shuttle bus menuju Marina Barrage. Lagi-lagi saya salut dengan service pemerintah Singapura yang mempermudah transportasi umum warganya. Free shuttle bus ini kondisinya memang enggak lux, tapi udah sangat membantu pergerakan manusia untuk menuju Marina Barrage dari MRT Marina Bay, atau sebaliknya.

Simulator Marina Barrage

Marina Barrage. Bangunan bendungan yang berada di pinggir pantai ini nampaknya menjadi salah satu andalan pemerintah Singapura untuk menjaga keseimbangan alam negaranya. Tidak seperti bendungan kebanyakan di Indonesia, Marina Barrage justru lebih berfungsi sebagai pemisah antara air laut dengan air sungai. Tembok raksasa ini bisa dibuka tutup pintunya secara elektrik untuk mengatur debit air di sungai, sehingga meminimalisir terjadinya banjir yang disebabkan rob ataupun hujan deras.

Ada satu lagi fungsi Marina Barrage yang ga kalah penting. Singapura sebagai negara kecil yang ga punya sumber daya alam melimpah seperti Indonesia, tentu harus berpikir kreatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warganya, terutama ketersediaan air bersih. Nah Marina Barrage inilah yang berfungsi sebagai salah satu reservoir yang akan memasok kebutuhan air bersih untuk warganya. Air dari dam ini akan diolah sedemikan rupa menjadi air keran layak minum yang oleh pemerintah Singapore disebut sebagai NewWater. View full article »

Marina Bay Sands

Dari Suntec City, perjalanan dilanjutkan menuju Esplanade. lagi-lagi kami dimanjakan dengan sistem di Singapura yang saling terpadu. Jadi dari Suntec City kita bisa lewat jalan akses via Suntec Convention Centre dan Marina Square, lumayan jadi ga kepanasan hehe.  Sampai di Esplanade kami justru ga bisa foto-foto dengan background “gedung durian” yang terkenal itu, karena posisi kita yang terlalu dekat. Ok lah gak apa-apa, nanti kami bisa foto dari Esplanade Bridge yang posisinya lebih strategis. Tapi sebelumnya kami puas-puasin dulu foto di depan Esplanade Theatre dengan background hotel Marina Bay Sands yang bentuknya unik itu. Kalo dari peta yang kami punya, seharusnya Merlion terlihat jelas dari Esplanade, tapi kok hari itu ga keliatan ya si singa mancurnya. Apa mungkin peta kita salah. Ok lah never mind, let’s check it later.

Puas foto-foto, kita lanjut menuju Merlion via Esplanade Drive/Esplanade Bridge. Jembatan ini nampak begitu cantik dengan hiasan bunga-bunga di setiap sisinya. Dan demi keamanan pejalan kaki, pedestrian dibuat terpisah dari jalur mobil. Nah dari jembatan ini, baru deh keliatan “gedung duren” yang cantik itu. Puas foto-foto Esplanade, kami lanjut jalan lagi ke arah Merlion, dan ternyata sungguh ternyata.. Merlion ditutup setengahnya dengan bangunan berwarna merah. Waduh kenapa tuh merlion dikandangin gitu. Lagi ada maintenance work atau memang sengaja dikandangin biar ga diklaim sama negara tetangga kali ya hehe. View full article »

St Joseph's Church

Minggu, 3 April 2011. Pagi pertama kami di Singapura. Awalnya sempat kaget, jam 6 pagi, tapi langit masih gelap. Ternyata ini gara-gara waktu di Singapura yang lebih cepat satu jam dari Jakarta. Jadi jam 6 pagi di Sin serasa seperti jam 5 pagi di Jakarta. Pagi itu kami sangat bersemangat, segera mandi dan sarapan untuk bersiap walking tour keliling spot-spot utama di Sin. Oya ketika sarapan kami kami sempat berkenalan dengan bapak-bapak backpacker dari Jepang yang baru saja menghabiskan waktu di Thailand berminggu-minggu. Ada juga bule Yunani yang menjalani solo backpacking selama berbulan-bulan. Menariknya dia udah mengunjungi hampir sebagain besar kota-kota menarik di Indonesia, bahkan kami yang orang Indonesia aja ga lebih mengenal bumi katulistiwa ini daripada dia.

inside St Joseph's Church

Perjalanan pagi itu kami mulai dengan mengunjungi St. Joseph’s Church di Victoria Street, dekat dengan penginapan. Bangunan gereja bergaya gothic church khas gereja tua peninggalan Inggris. Karena hari Minggu, kami berencana untuk ikut misa di sana. Namun ketika kami masuk dan melihat-lihat ke dalam, ada petugas gereja di sana yang memberi tahu kami untuk ikut misa di Cathedral of the Good Shepherd. Kata ibu petugas, di gereja katedral lagi ada misa pentahbisan Uskup gitu. Karena lokasinya yang tidak jauh, kami pun segera meluncur ke sana. Tapi ketika sampai sana misanya udah mulai, dan gerejanya penuh sesak. Akhirnya kami batalkan ikut misa, padahal emang dasarnya males misa hehe. Oya, sebenarnya di dekat situ ada Bras Basah Complex, tempat jualan buku-buku murah. Konon bisa dapet buku Lonely Planet second hand dengan harga super miring. tapi kami ga sempat ke sana, karena masih terlalu pagi, jadi tokonya pada belum buka. View full article »

Lobby Backpacker Cozy Corner Guesthouse

Perjalanan meluncur menggunakan MRT dari Changi menuju tempat menginap kami di daerah Bugis memakan waktu sekitar 45 menit. Siang itu MRT yang kami tumpangi kondisinya sangat padat, maklum karena hari itu bertepatan dengan  masa weekend. Tapi walaupun padat, suhu udara di dalam MRT tetap terjaga baik dan tidak sumpek. Penumpang yang akan masuk juga tetap antri dengan tertib dan selalu memberi kesempatan pertama kepada yang akan turun. Semua itu berjalanan tertib tanpa ada petugas yang mengatur, baik di dalam MRT maupun di dekat pintu keluar masuk MRT.

Singkat cerita kami sudah sampai di stasiun MRT Bugis. Keluar dari stasiun langsung ada pentunjuk arah jalan keluar. Bisa keluar lewat Mall Bugis Junction atau langsung ke Victoria Street dan North Bridge Road. Saat itu kami agak bingung memilih jalan keluar, dan akhirnya memilih keluar via Bugis Junction. Setelah menemukan jalan keluar mall, kami juga agak bingung menentukan lokasi hostel yang akan kami tempati. Setelah mencoba tenang dan mempelajari peta secara detail, akhirnya kami menemukan Cozy Corner Guesthouse yang ternyata posisinya persis di seberang Bugis Junction. Bentuknya seperti ruko 3 lantai yang diapit oleh dua kedai makan di sebelah kanan dan kirinya. View full article »

Here we go.. akhirnya kami sampai juga di tanggal 2 April 2011. Tanggal yang kami nanti-nantikan sejak tahun lalu. Yap rencana untuk backpacker-an ke tiga negara Singapura, Thailand dan Malaysia tanpa terasa sudah muncul di depan mata. Kisah ini dimulai ketika saya mengadu peruntungan ikut-ikutan berburu tiket promo Rp. 10rb AirAsia. Promo gila-gilaan ini terjadi pada bulan Agustus 2010. Sebenernya kisah perjuangan saya dan pacar untuk mendapatkan tiket promo ini sudah saya share-kan di tulisan sebelumnya yang berjudul “Etok2” Travelling: Edisi Tiket Promo Air Asia.

Singkat cerita tanggal 2 April saya semangat bangun jam stengah 4 pagi. Saya segera bersiap dan langsung meluncur naek bus Damri di terminal Rawamangun menuju Bandara Soetta. Karena jalanan masih sepi, saya sudah sampai di Terminal 2D jam 5.30 pagi. Padahal pesawat baru akan terbang jam 8.30 pagi, jadi saya terancam mati gaya di bandara. Karena saya bukan tipe orang yang suka liat-liat barang di area duty free. View full article »

Gili Trawangan

Akhirnya baru berkesempatan lagi menulis blog. Hampir aja crita kali ini ga saya keluarkan, karena udah keburu pengen cerita-cerita yang lebih baru hehe.. tapi sayang akh kalau pemirsa sekalian melewatkan trip report Lombok kali ini.. haisyahhh… gaya banget saia.. kayak ada yang baca aja :D

Masih lanjutan dari cerita sebelumnya, kali ini saya akan becerita perjalanan bersama adik di Pulau Lombok. Perjalanan dimulai dari Ubud dengan menggunakan travel Perama jam 7 pagi. Kami harus jalan kaki lumayan jauh dari Jungut Inn ke pool Perama di Jalan Hanoman, Ubud. Namun jalan kaki ini terasa lebih ringan karena kontur jalan yang menurun.

Sampai di pool Perama, kondisi masih sepi, belum ada penumpang ataupun penjaga pool yang ada stand by di sana. Tidak berapa lama, datang sepasang bule yang membawa koper-koper besar dengan dijemput sama shuttle service Perama. Pikir saya, jarang liat nih bule yang liburan dengan konsep non-backpacker. View full article »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.