Latest Entries »

Just My Hobby

secangkir kopi dan pisang gorengApakah anda pernah menikmati secangkir kopi dipagi hari dengan ditemani oleh sepiring pisang goreng hangat? 

Ketika digigit masih renyah krauk…krauk… 

Hmm… Pasti nikmat ya..!! ( ´▽`)

Tapi kali ini saya tidak ingin berbagi artikel tentang cemilan tapi saya ingin berbagi informasi tentang kopi.

Pasti tidak asing lagi kan tentang minuman yang satu ini.

Dengan segala jenis keistimewaan yang ditawarkan oleh produsen kopi sachet tersebut, ada baiknya anda juga mencoba mengetahui fakta sebenarnya tentang kopi. Jadi bila anda memang pencinta kopi, silakan baca ulasan di bawah ini.

View original post 1,769 more words

Bayon Temple

Bayon Temple

Perjalanan ke Siem Reap siang di penghujung Maret 2013 yang sangat panas itu kami mulai dari Phnom Penh.. Sebenarnya sejak sebelum berangkat, saya sudah riset tentang perusahaan bis apa yang terpercaya dalam melayani trayek Phnom Penh – Siem Reap pp. Banyak blog dan forum online mengingatkan bahwa tidak ada terminal bus khusus di Phnom Penh ataupun Siem Reap. Masing-masing PO bus memiliki pangkalan/titik keberangkatan masing-masing yang berbeda satu dengan lainnya. Namun ketika kami sampai di bandara Phnom Penh dan bertemu dengan tukang tuk tuk… kami langsung aja minta ke dia untuk anter ke tempat penjualan tiket bus ke Siem Reap, terserah dengan PO apa.

Ternyata keputusan kami untuk “manut” dengan tukang tuktuk adalah kesalahan.. Karena PO bus yang dia pilihkan ternyata busnya sudah tua dan terkesan agak kumuh.. bentuk busnya model bus tingkat, jadi barang bawaan diletakkan di lantai 1, lalu semua penumpang di lantai 2. Setelah dari pool, bus ini mampir di beberapa agen di seputar kota Phnom Penh untuk menaikkan penumpang. Lama perjalanan sekitar 7 jam, termasuk cukup lama karena jarak kedua kota tersebut “hanya” sekitar 300 km. Entah kenapa bus yang kami tumpangi ini tidak berani ngebut, padahal jalanan relatif sepi dan kondisi aspal juga baik. Saya perhatikan kecepatan maksimal bus ini hanya 60 km/jam. Atau jangan2 udah ga bisa ngebut ya karena udah uzur hehe… Intinya kami cukup tersiksa di dalam bus ini karena kondisi bus yang tidak nyaman. Jadi tipsnya: pilih PO bus yang cukup kredibel semacam Giant Ibis Transport, Phnom Penh Sorya dan Mekong Express. Tarif busnya berkisar di angka 12 – 15 US $.

Angkor Thom

Angkor Thom

Singkat cerita kami sampai di pool bus Siem Reap sekitar pukul 9 malam. Saat itu kami sudah dijemput oleh dua tuk tuk yang memang merupakan fasilitas dari hotel. Kami menginap di Bun Seda Angkor Villa, jaraknya tidak terlalu jauh dari Pub Street, salah satu pusat kehidupan malam di Siem Reap. Karena tiba di penginapan sudah malam, maka kami membatalkan acara esok pagi untuk menyaksikan sunrise di Angkor Wat, ikhlas aja ke sananya agak siangan. Malam itu kami langsung cari makan malam di deket hotel trus langsung tepar setelah 7 jam di bus.

Esok paginya setelah sarapan kami kembali dijemput oleh tuk tuk yang semalam mengantar kami ke hotel. Hari itu kami janjian untuk sewa mereka mengantar kami keliling komplek Angkor sampai sore. Sekilas tentang komplek candi Angkor yang merupakan salah satu dari delapan keajaiban dunia. Angkor ini merupakan kebanggaan bangsa Khmer yang dahulu dikenal kuat dan mengusai banyak wilayah di Indochina. Komplek ini memiliki ratusan candi yang sampai sekarang masih bertahan. Dari komplek ini, candi yang paling terkenal tentu saja Angkor Wat. Candi ini bahkan digunakan Kamboja sebagai lambang negara yang tertera di bendera mereka. Bentuk komplek ini persegi empat berukuran 1,5 km x 1,3 km yang dikelilingi oleh sungai buatan. Komplek ini terdiri dari tiga level yang dibangun oleh Raja Suryavarman II pada tahun 1113. Ada satu kejadian ketika kami berjalan jalan di komplek ini, tiba-tiba View full article »

Kamboja… Angkor Wat.. dua keywords ini telah lama melintas lalu lalang di pikiran saya. Entah kenapa, tapi ketika itu pacar saya (yang saat ini sudah menjadi istri) juga menyimpan impian yang sama untuk bisa mendaratkan kaki di Kamboja. Bagi saya pribadi Angkor Wat adalah satu dari warisan budaya dunia yang luar biasa. Angkor Wat adalah salah satu dari banyak candi lain yang ada di dalam komplek kota tua Angkor. Kompleks Angkor ini dulunya ketika dibangun pada sekitar abad 12 difungsikan sebagai candi Hindu, namun seiring berjalannya waktu, beralih menjadi candi Budha, yang saat ini Budha merupakan agama mayoritas yang dianut warga Kamboja. UNESCO sendiri menobatkan Kompleks Angkor ini sebagai World Heritage Site dan kompleks candi terluas di dunia.

Cerita saya bermula sekitar bulan Mei 2012 yang lalu. Saya ketika itu tergabung di dalam grup whatsapp alumni SMA. Kebetulan ketika itu sedang ada promo AirAsia untuk penerbangan tahun 2013. Sempet ada wacana untuk backpacker-an bareng sama temen2 alumni. waktu terus bergulir hingga akhirnya periode penjualan tiket promo sudah akan dibuka. Karena biasanya AirAsia me-launching tiket promo pada dini hari, maka saya terpaksa harus melek sampai pagi pada hari itu. Setelah wacana berkembang, akhirnya hanya lima orang termasuk saya dan pacar yang jadi mengeksekusi tiket promo tersebut. Waktu itu kami hanya membeli tiket Indonesia (JOG and CGK) ke Kuala Lumpur (KUL) pulang pergi di bulan Maret 2013. Saat itu kami hanya berencana untuk pusing-pusing di Malaysia aja.. ada beberapa opsi tujuan, mulai dari Legoland Johor Baru, Malaka, dan Penang.

Waktu berganti hari, berganti bulan… saya lupa di bulan apa, mendadak ada promo airasia lagi. Saya iseng klik sana klik sini.. ternyata di bulan Maret 2013 ada promo tiket KUL – PNH (Kuala Lumpur – Phnom Penh) pp. Tanpa pikir panjang, setelah mengkontak pacar, akhirnya saya booking tiket tersebut dengan total jendral sekitar 109 USD untuk tiket KUL – PNH pp dua orang. Jadi kalo di breakdown, harga tiket pp satu orang hanya sekitar 600rb rupiah saja. Mengapa saya memilih tiket ke Phnom Penh, dan tidak langsung direct ke Siem Reap, kota dimana Angkor Wat berada? Lagi-lagi keputusan itu karena pertimbangan biaya tiket. Tiket ke Siem Reap dipatok dengan rate yang lebih tinggi, dan memang hal itu wajar karena Siem Reap merupakan kota  tujuan utama traveller.

Tidak lama, saya kemudian menghubungi teman-teman yang lain kalau saya dan pacar membeli tiket lanjutan ke Kamboja. Akhirnya teman2 juga ikut untuk membeli tiket lanjutan tersebut, maka fixed kami berlima akan berkelana di Kamboja, dan terpaksa harus melupakan Malaka dan Legoland. Saya pikir selama masih ada airasia, maka tiket ke Malaysia masih bisa terjangkau, sehingga di lain waktu masih memungkinkan untuk pergi ke Malaka dan Legoland. Namun kesempatan bisa mengunjungi Angkor Wat, bagi saya belum tentu dapat terulang kembali.

Singkat cerita, akhirnya View full article »

248921_10150228903188395_7714921_nKeterlambatan keberangkatan kereta api dari Penang yang mundur sampai 3 jam membuat rencana kami selama di Kuala Lumpur menjadi gagal total. Kalau sesuai dengan rencana awal, kami seharusnya sudah sampai di KL Sentral sekitar jam 6 pagi. Namun karena delay ini, kami baru sampai jam 9 pagi. Karena kondisi itu, kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan ke Batu Caves. Setibanya kami di KL Sentral kami langsung mandi. KL Sentral sendiri memiliki shower room yang cukup bersih, walaupun kami harus menebus dengan membayar skitar Rp. 35.000 per orang untuk mandi. Namun harga segitu cukup fair karena kami dipinjami
View full article »

Penang: Old Town Beauty

10Perjalanan dari perbatasan Thailand sampai ke Penang sangat lancar karena jalanan antar kotanya sudah berupa jalan tol. Penang sendiri terbagi menjadi 2 bagian. Ada bagian yang berada di mainland Malaysia dengan kotanya Butterworth, dan ada bagian yang di Pulau Pinang dengan kota Georgetown sebagai pusatnya. Singkat cerita kami sampai di Penang sekitar pukul empat sore. Ketika memasuki Georgetown, aura kota tua sudah terasa. Banyak bangunan tua yang masih terawat, saling menyambung berjajar di jalan-jalan kecil khas Penang. Kami diturunkan di Love Lane, lalu berjalan kaki ke Star Lodge di Lebuh (jalan) Muntri, yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat kami diturunkan.

Star Lodge

Star Lodge

Kami menginap di Star Lodge, penginapan sederhana yang sudah dibooking jauh hari. Harga kamar yang kami tempati 50 RM. Star Lodge ini dijalankan oleh seorang bapak tua keturunan China. Kamar kami memiliki AC dan kamar mandi dalam, lengkap dengan shower air hangat. Karena sampai sudah menjelang malam, setelah mandi kami hanya jalan-jalan sebentar menikmati malam di Georgetown.

Keesokan harinya View full article »

Travel Krabi - Hat Yai

Travel Krabi – Hat Yai

Pagi hari sekitar pukul 7, minivan yang akan mengantar kami ke Penang sudah datang. Minivan terisi penuh, dan hanya kami bertiga yang nampak seperti turis, sedangkan penumpang lain adalah warga negara Thailand dan ada beberapa warga negara Malaysia. Minivan nya bentuknya mirip Mazda E-2000.

Perjalanan darat dari Krabi menuju Penang relatif lancar tanpa hambatan berarti, walaupun bukan jalan tol. Setelah 2,5 jam perjalanan, sopir membawa kami mampir ke salah satu restaurant untuk  istirahat sejenak dan sarapan. Thailand sendiri, semakin ke selatan semakin banyak populasi warga muslim, sehingga di rumah makan tempat kami singgah ada ruang khusus yang menyiapkan makanan prasmanan halal. Kami somehow sudah agak eneg dengan pork yang sering menjadi menu beberapa hari sebelumnya selama di Singapore dan Bangkok. Jadi makanan berlabel halal akhirnya kami pilih untuk menu makan siang.

Rest Area

Rest Area

Setelah makan siang, perjalanan kembali dilanjutkan menuju selatan. Karena jalanan relatif sepi, si sopir mengajak mobil untuk berlari kencang dengan kecepatan sekitar 100 – 120 km/jam. Lalu tiba-tiba, di sebuah persimpangan jalan, View full article »

Melanjutkan cerita sebelumnya tentang Bangkok di sini, akan saya lanjutkan petualangan kami selama di Krabi, Thailand.

Singkat cerita kami sudah sampai di Good Dream Guesthouse setelah perjalanan darat semalaman dari Bangkok. Sebelumnya saya sudah booking hotel ini via internet, dan sudah saya bayar juga pakai pay pal. Good Dream direkomendasikan oleh beberapa traveller, termasuk Claudia Kaunang dalam bukunya travelling ke Singapura-Thailand-Malaysia. Kami booking kamar triple room dengan 3 single bed. Good Dream memiliki 2 guesthouse yang saling berhadapan. Kebetulan kamar kami berada di Good Dream 2, di seberang Good Dream 1 yang menjadi “kantor” pusatnya.

Ketika kami sampai di Krabi, jam baru menunjukkan pukul 8 pagi, dan tidak yakin diperbolehkan check in karena waktu check in normalnya jam 12 atau 1 siang. Ternyata Puji Tuhan, kamar ketika itu tidak penuh, sehingga kami bisa early check in tanpa biaya tambahan. Oya, fyi ketika itu (pertengahan 2011) Thailand Selatan termasuk Krabi habis dilanda badai yang cukup kuat, sehingga mungkin tidak banyak turis yang datang. Namun Puji Tuhan lagi, ketika kami sampai di sana, badai sudah reda, cuaca cerah dan sangat bersahabat.

1. Lisa with her bakery shop :) | 2. Krabi Town | 3. Good Dream 2 ruko paling kanan

1. Lisa with her bakery shop🙂 | 2. Krabi Town | 3. Good Dream 2, ruko paling kanan

Krabi memiliki karakteristik seperti Phuket Town dan Patong. Krabi kami pilih, karena sebelumnya saya, adik bersama Bapak dan Ibu sudah pernah ke Phuket, jadi penasaran mau nyoba Krabi. Krabi Town sendiri tidak persis ada di dekat pantai dan relatif tidak terlalu ramai kotanya, karena kebanyakan turis memilih untuk menginap di Ao Nang area yang dekat pantai. Jarak Krabi Town dan Ao Nang tidak terlalu jauh, sekitar 20 menit berkendara. Kami memilih untuk menginap di area Krabi Town, karena pertimbangan mencari ketenangan dan tarif penginapan dan makan yang lebih murah.

Good Dream 2 Guesthouse di Krabi Town tempatnya cukup nyaman. Bangunannya mirip ruko sederhana setinggi 4 lantai. Lantai 1 khusus untuk lobi dan ruang makan. Kamar kami di lantai 2 adalah kamar terbesar dan dengan balkon menghadap ke jalan. Kamar non AC dengan 2 kipas angin besar dan kamar mandi luar. Tapi karena ketika itu Good Dream 2 hanya terisi 2 kamar termasuk kami, jadi serasa hotel pribadi. Kami sepakat untuk menobatkan hostel ini sebagai hostel terbaik selama  perjalanan 3 negara yang lalu. Dengan service yang lengkap, hostel yang masih baru dan bersih ini mematok harga yang cukup murah… cuma 15 USD atau sekitar 140 rb rupiah. Lalu kalau ingin internetan gratis kami tinggal nyebrang ke Good Dream 1.

Good Dream 2

Good Dream 2

Ketika sampai di Krabi, tidak terasa kami sudah 6 hari melakukan perjalanan. Selama 6 hari itu pula kami tidak pernah mencuci pakaian. Maka karena keterbatasan pakaian ganti, kami langsung mencuci masal di Good Dream, dan dijemur di balkon kamar. Hari itu kami sengaja tidak punya agenda apa-apa. Hanya ingin istirahat sambil jalan-jalan di sekitar Krabi Town. Saya sendiri langsung jatuh cinta dengan Krabi, karena

View full article »

IMG_4824Kalau Singapura punya Orchard Road, nah Bangkok juga punya area pusat perbelanjaan (shopping belt) di daerah Siam (Rama Road). Area ini juga yang membuat kami melewatkan kunjungan ke Wat Arun. Adek dan pacar saya yang sudah kecapekan berjalan kaki di Grand Palace dan Wat Pho, tiba-tiba semacam mendapat suntikan tenaga ketika sampai di Siam Area ini. Hehe dasar kalau yang namanya belanja ga ada capeknya.

Karena saat itu sudah sekitar pukul 12 siang, kami memutuskan untuk makan siang dulu di foodcourt nya MBK Center. Berdasarkan buku yang saya baca, foodcourt ini menyediakan banyak pilihan makanan mulai dari yang non-Halal maupun yang Halal. Di sana kita membeli semacam voucher untuk melakukan transaksi di semua counter foodcourt. bila vouchernya sisa, bisa dikonversi ke dalam THB lagi.

MBK Foodcourt

MBK Foodcourt

Selesai makan siang, kami melanjutkan berbelanja di MBK Center. Bangunannya mirip semacam Mall/ITC Abassador Jakarta gitu, tapi ini lebih rapi. Adek dan pacar saya cukup banyak memborong kaos dan pakaian di sini. Saya sendiri membeli beberapa T-shirt khas Thailand yang dibandrol dengan harga nett 100 THB. Selesai dari MBK, kami melanjutkan perjalanan ke Siam Paragon, Discovery Mall, dan Central World. berbeda dengan MBK, ketiga mall yang saya sebutkan terakhir tadi konsep nya lebih lux, ya semacam Grand Indonesia dan Plaza Indonesia kalau di Jakarta. Kami tidak berbelanja apa-apa di tempat tersebut karena dana yang terbatas.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Pratunam Market, semacam pasar tradisional yang menjual banyak barang dan kerajinan untuk oleh-oleh. Di sini kami kembali memborong beberapa helai T-shirt yang harganya hampir sama dengan di MBK, bedanya di sini harus pintar menawar. Ketika itu sudah menjelang sore hari, dan jalanan di Bangkok berubah menjadi View full article »

IMG_4573Setelah dua malam sebelumnya sampai di Bangkok, baru hari ini kami benar-benar merasakan detak nadi City of Angels ini. Rencana kami hari ini adalah mengujungi beberapa obyek yang menjadi “must visit” di Bangkok, yaitu: Grand Palace, Wat Po dan Wat Arun yang lokasinya berdekatan. Jauh hari sebelum berangkat, saya sudah banyak melakukan riset kecil-kecilan melalui buku, majalah, blog, website dan milis terkait hal apa saja yang penting kita ketahui sebelum berkunjung ke obyek tersebut. Beberapa poin penting yang saya rangkum dan hasil pandangan mata di lokasi adalah:

1. Dari daerah Khaosan Road, untuk menuju ke Gand Palace bisa ditempuh dengan berjalan kaki. jaraknya cukup dekat, bisa ditempuh dalam 15 menit berjalan kaki. Tidak disarankan untuk menaiki tuk-tuk karena besarnya potensi scam. Scam seperti apa yang bisa terjadi pada kita, akan saya jelaskan pada poin 3.

2. Saat berjalan kaki menuju Grand Palace, anda akan melewati sebuah taman besar. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, di taman tersebut ada beberapa orang yang sengaja melempar makanan burung di depan kita, sehingga burung banyak yang berkerumun. Setelahnya mereka akan meminta uang pengganti makanan tersebut kepada kita, walaupun kita tidak meminta mereka untuk menyebar makanan burung tersebut. Cara kami untuk menghindarinya adalah tidak melewati taman tersebut. Kami memilih berjalan di trotoar seberang jalan taman.

3. Setelah sampai di Grand Palace, cari pintu utama yang posisinya ada di ujung kanan dari pertigaan jalan setelah taman tadi. Bila kita salah pintu, kemungkinan besar kita akan terkena scam. ada orang yang berdiri di dekat pintu yang BUKAN utama tersebut, dan pintu itu tertutup. Orang tersebut akan mengatakan bahwa Grand Palace belum buka, dan anda akan ditawarkan untuk mengambil paket kunjungan ke beberapa kuil (Wat) kecil di Bangkok menggunakan tuk tuk. Harga yang mereka tawarkan cenderung View full article »

Khaosan Road di malam hari

Setiba di stasiun Hualamphong senja hari, kami kembali ke Train Inn untuk mengambil tas yang sebelumnya kami titipkan di sana. Nah kebingungan dimulai. Sebenarnya rencana kami adalah menuju ke daerah Khaosan, pusatnya backpacker berkumpul di Bangkok. Namun sebelumnya, kami harus ke Sai Tai Mai, terminal bus selatan Bangkok untuk membeli tiket yang akan membawa kami ke Krabi esok hari. Namun kami tidak punya petunjuk harus naik kendaraan apa untuk ke sana, dan juga berapa jauh jarak ke sana, termasuk apakah tiket untuk tujuan esok hari masih tersedia atau tidak. Oya sebagai pemberitahuan saja, ketika itu Thailand bagian selatan belum lama dihantam badai besar, sehingga kereta api tujuan selatan Bangkok berhenti beroperasi karena terendam banjir. Alternatifnya hanya naik pesawat atau naik bus, karena jalan tol nya tidak terendam banjir. sehingga asumsi saya, turis ketika itu pasti akan banyak yang menggunakan moda transportasi bus.

New Joe Guest House, Khaosan

Ketidak jelasan cara memperoleh tiket ke Krabi itulah yang membuat kami sempat sedikit galau saat itu. Akhirnya diputuskan untuk membeli tiket bus via travel agent yang letaknya tidak jauh dari stasiun Hualamphong. Harga tiket bus swasta yang dijual di travel agent ini memang lebih mahal bila dibandingkan dengan membeli tiket bus milik pemerintah di Sai Tai Mai (800 B : 600 B). Karena pertimbangan kepraktisan, dan jaminan memperoleh tiket bus, akhirnya kami putuskan untuk membeli via agent tersebut, keputusan yang akhirnya kami sesalkan kemudian. Kami juga menitipkan tas di travel agent ini, jadi ga perlu bawa tas banyak ke Khaosan.

Sebagai catatan, bus antar kota milik pemerintah di Thailand lebih direkomendasikan oleh banyak turis, karena memiliki standar pelayanan yang bagus, dan jauh dari ancaman scam.

Dari Hualamphong, kami menyewa tuk tuk menuju Khaosan. Setiba di Khaosan kami sempat bingung mencari New Joe Guest House, hostel yang sebelumnya sudah kami booking online. cukup lama kami berputar-putar mencari hostel ini, karena banyak gang kecil (Soi) di daerah Khaosan tersebut dan modelnya mirip-mirip semua. Singkat cerita kami menemukan hostel ini di ujung gang buntu.. luar biasa. Kamar yang kami View full article »