Jamu, hampir semua orang mengenal kata itu. Salah satu obat alami yang mencoba terus bertahan hidup ditengah hingar bingar obat kimia dewasa ini. Obat alami yang bersahabat bagi tubuh, dan tentunya tanpa efek samping. Saya sendiri menyesal karena sudah terlalu addict dengan obat-obatan kimia sejak kecil.

Rajutan cerita dengan jamu, kembali masuk ke dalam benak saya ketika memulai kuliah di Program Pascasarjana salah satu Universitas negeri di Jakarta pada akhir 2009. Dalam pikiran saya, jamu cuma ada dua cara penjualan. Yang pertama dengan menggunakan tenggok yang djual keliling oleh mbok-mbok jamu. Kedua, dijual di sebuah warung kecil, dengan jamu instannya. Warung kecil ini terkadang sering digunakan sebagai kedok penjualan minuman keras.

Salah satu sudut "Bar" Mentjos

Semua anggapan saya ini kemudian menemui falsifikasi ketika dikenalkan oleh seorang teman kampus tentang keberadaan sebuah warung jamu unik. Namanya Jamu Bukti Mentjos atau lebih dikenal dengan sebutan Jamu Mentjos. Warung jamu ini dikemas dengan gaya interior tradisional, classic dan vintage. Desainnya seperti bar dengan kursi tinggi dan mejanya yang mengelilingi warung tersebut. Di sekelilingnya dipajang barang antik dengan lukisan yang menggantung di setiap sisi tembok. Berlokasi di Jalan Salemba Tengah, Jakarta Pusat, warung ini agak mudah ditemukan karena berada tepat di perempatan jalan. Lahan parkirnya pun cukup luas. Untuk mobil kira-kira bisa menampung sebanyak 8 kendaraan.

Cukup mengenai kondisi fisik bangunan, mari kita bergeser ke menu yang ditawarkan. Namanya juga warung jamu, tentu yang ditawarkan adalah jamu. Jamu seduh yang diklaim sebagai warisan turun temurun ini memiliki puluhan jenis ramuan. Mulai dari jamu anti masuk angin, untuk pengantin baru, hingga untuk ibu-ibu hamil. Pelayan warung ini tampak sudah fasih dengan permintaan dan keluhan penyakit dari pelanggan, sehingga sudah paham betul mengenai ramuan apa yang cocok diberikan untuk pelanggan tersebut. Satu gelas jamu dan satu gelas air jahe sebagai tombo pahit dihargai 14 ribu rupiah. Bila ingin ditambah telor dan kolesom, tentu pelanggan harus merogoh kocek lagi. Harga yang cukup mahal memang, apalagi dari kacamata seorang mahasiswa hehe.

Aksi Peracik Jamu

Selain jamu, warung ini juga menyediakan minuman khas lainnya seperti air jahe, susu kedelai dan kunir asem. Bahkan khusus untuk kunir asem dan susu kedelai, mereka juga menyediakan dalam ukuran botol sirup, sehingga bisa dinikmati di rumah bersama keluarga tercinta. Warung Jamu yang berada di ujung jalan Salemba Tengah ini juga menyediakan berbagai makanan ringan di sore hari. Mulai dari bubur ketan hitam, wedang ronde, bubur kacang hijau, bubur jali-jali, bubur biji salak dan bubur ayam. Lumayan deh buat pengganjal perut sebelum makan malam.

Saya dan teman-teman kampus cukup sering mampir ke warung Mentjos ini. Mungkin hampir seminggu sekali, karena lokasinya yang cukup dekat dengan kampus. Karena mahasiswa, kami pun mencari-cari menu yang pas di kantong. Lebih sering menyantap aneka bubur sembari menyruput wedang jahe ato susu kedelai segar. Pas buat teman nongkrong sore hari.

Sekian ulasan singkat saya mengenai Jamu Mentjos. Oya, kalo beruntung, anda bisa bertemu dengan sang pemilik warung. Bisa langsung konsultasi gratis mengenai penyakit yang kita keluhkan. Kemudian beliau akan menyarankan sejenis jamu tertentu yang cocok dan sesuai. Jamunya lumayan manjur lho, dulu saya minum jamu radang tenggorokan, dan terbukti benar-benar cespleng. Selamat mencoba🙂

nb: Jamu Mentjos buka setiap hari jam 11 – 21.30. Hari Minggu dan tanggal merah: libur.

Ilustrasi Bubur Biji Salak & Bubur Ketan Hitam