Phi Phi Don

Pengalaman pertama.. Bagi saya dan mungkin kebanyakan orang lainnya, seolah selalu penuh dengan sensasi. Sebuah perasaan senang, tidak sabar, deg-degan, takut, dan ragu-ragu yang saling beradu di dalam hati. Begitu pula dalam kisah saya berikut tentang pengalaman pertama ketika kartu identitas yang biasanya menggunakan KTP, beralih menjadi Pasport untuk sementara waktu. Ya.. inilah pengalaman pertama saya ke luar negeri. Yippiee…

Maaf kalo agak lebay bin norak. Mungkin bagi beberapa orang Indonesia, pergi ke luar negeri bukanlah hal yang istimewa. Dengan income yang nyaris unlimited, mereka bisa dengan mudah keliling dunia. Atau mungkin bagi orang-orang yang sangat pintar dan beruntung sehingga mereka bisa pergi ke luar negeri karena mendapatkan beasiswa atau tugas ke luar negeri dari kantor. Bisa juga karena menjadi TKI, sehingga harus meninggalkan Indonesia demi kepulan asap dapur di kampung tetap terjaga.

Terima kasih buat Air Asia yang membawa kami ke Phuket dengan “Murah”

Kondisi di atas sayangnya masih menjadi mimpi dan angan-angan belaka bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Boro-boro pergi ke luar negeri, untuk memikirkan hidup sehari-hari saja masih kelabakan. Akhirnya perjuangan menabung serupiah demi rupiah, selama bertahun-tahun untuk mewujudkan impian jalan-jalan ke luar negeri terwujud sudah. Walupun tidak jauh, namun perjalanan selama 4 hari di Phuket, tentu patut disyukuri.

Perjuangan tidaklah mulus. Saya bersama adik dan bapak harus segera membuat pasport agar bisa segera digunakan untuk mem-booking tiket pesawat murah. Ibu cukup santai karena sudah punya pasport sebagai hasil dari beberapa kali penugasan ke luar negeri dari kantornya. Singkat cerita semua persiapan sudah dilakukan. Seperti biasa,sindrom pra jalan-jalan kumat. Semakin mendekati hari H, perasaan deg-degan dan tidak sabar bercampur menjadi satu. Kuatir akan kehidupan di sana yang mungkin cukup berbeda dengan di Indonesia.

Toyota Hiace Commuter (courtesy : wikimedia.org)

Proses check in dan masuk ke ruang tunggu ternyata tidak semudah penerbangan domestik. Kita harus mengisi semacam kartu yang digunakan untuk proses imigrasi. Belum lagi harus mengambil formulir bebas fiskal. Beruntung saya yang masih berstatus mahasiswa pengangguran, jadi masih bisa nebeng ke NPWP ortu. Lumayan bisa terhindar dari bea fiskal yang konon senilai 2,5 juta rupiah. Lumayan kan duit segitu bisa buat beli sepeda (tetep di otak isinya cuma ada sepeda n jalan2) hehe..

Isi perut pertama di Phuket, sama kan spt di Indo🙂

Singkat cerita perjalanan panjang melalui udara selama 2,5 jam sudah terlewati. Puji Tuhan kami mendarat dengan selamat di Phuket International Airport. Aiport yang ukurannya tidak lebih besar dari Bandara Adi Sucipto Jogja ini, ternyata sanggup didarati oleh pesawat-pesawat antar benua berbadan bongsor. Jadi walaupun fisik bangunan bandaranya kecil, tapi runway-nya udah mumpuni.

Setelah beres mengurus imigrasi, akhirnya kami bisa menghirup udara Thailand secara legal. Kami juga sudah ditunggu oleh tour guide beserta sang sopir. Ternyata kami dijemput oleh semacam mobil travel yang disana lebih terkenal dengan sebutan Toyota Hiace Commuter. Bentuknya mirip dengan KIA Pregio, namun dengan ukuran yang lebih besar dan tinggi.

Akhirnya sampai juga di Ibis Patong

Karena sudah menahan lapar selama di pesawat, maka sebelum ke hotel, kami mampir dulu ke sebuah warung makan setempat. Menu dan bumbunya cukup familiar dengan lidah kita, jadi semua hidangan sukses disantap dengan lahap. Namanya udah laper, semua jadi enak hehe. Akhirnya sampai juga di Ibis Hotel, Patong. Check in, mandi dan persiapan langsung cabut lagi buat makan malam. Naik mobil dari hotel sekitar 20 menit, kami akhirnya sampai. Makan malam di pinggir pantai begitu, dengan menu seafood ala Thailand termasuk Tom Yam. Menunya tidak terlalu istimewa karena sebelumnya juga pernah beberapa kali menyicipi makanan khas Thailand di Indonesia.