Phi Phi Leh

Lanjutan dari tulisan sebelumnya “Pengalaman Pertama (1st Day)”

Paginya kami berangkat cukup gasik untuk bisa mengejar jadwal ferry ke Phi Phi Island. Perjalanan sekitar 40 menit dari hotel sampai ke dermaga. Ternyata sampai sana kami termasuk yang datang awal, jadi bisa memilih spot menarik di ferry untuk foto-foto. Ferry-nya sendiri berbeda dengan yang ada di Indonesia. Ukurannya lebih kecil, tidak bisa mengangkut kendaraan dan terdiri dari tiga lantai. Kami awalnya ingin duduk di bagian luar ferry saja sembari menikmati deburan ombak selama perjalanan. Namun karena tempat duduk di dalam lebih nyaman dan ber-AC, akhirnya kami memilih duduk di dalam. Benar saja, ternyata selama perjalanan ke Phi Phi Island sekitar 1,5 jam, anginnya cukup kencang, sehingga orang-orang yang duduk di luar kebasahan semua terkena “cipratan” ombak hehe.

Ternyata penumpang ferry ini sungguh beragam, banyak orang bule Eropa dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Ada juga orang Asia Timur yang tampaknya dari Hong Kong, Taipei, Cina Daratan dan sekitarnya. Ada juga orang Asia Selatan dengan wajah seperti orang India. Dan tentunya selain kami, ternyata ada juga grup orang Indonesia sekitar 4 orang suami istri. Jadi bisa dibayangkan kuping saya mendengar orang dari berbagai penjuru dunia ngobrol dengan bahasanya masing-masing. Lucu, aneh dan seru juga.. tapi ya tetep roaming.

Phi Phi Don.. nais..

Singkat cerita kami sampai ke Phi Phi Leh, salah satu pulau dari gugusan kepulauan Phi Phi Island. Pantai ini menjadi magnet tersendiri bagi turis yang datang ke Phuket karena pernah digunakan untuk shooting film “The Beach”. Ferry kami tidak bisa merapat ke pulau tak berpenghuni ini, karena banyak karang dangkal di sekitar pantai. Namun kami diberi kesempatan untuk snorkeling di seputaran pulau ini. Waoow ini pengalaman pertama saya melakukan jelajah laut dengan snorkeling. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan untuk bernafas hanya mengandalkan mulut. Akhirnya saya menyerah, lalu melepas peralatan snorkeling tersebut, dan menikmati keindahan pantai dengan bermodalkan kaca mata renang milik adik. Air lautnya cukup jernih, dengan balutan warna biru kehijauan. Ikan-ikan kecil beraneka warna dengan bebas berenang di sekitar kami. Akhirnya tak terasa satu jam berlalu, kami harus melanjutkan perjalanan ke Pulau Phi Phi Don untuk santap siang.

Sampai di Phi Phi Don, kami segera melancarkan jurus kaki seribu untuk segera sampai tempat makan yang sudah ditentukan oleh pengelola kapal ferry. Ternyata betul, kami rombongan pertama yang sampai di spot luch. Langsung saja kami sikat semua makanan yang disediakan secara prasmanan itu. Maklum, setelah snorkeling satu jam kurang, perut meronta minta segera di charge. Setelah makan siang, saya dan adik menyempatkan diri untuk menikmati pantai yang tak kalah menariknya dengan Phi Phi Leh, tapi sayang cuma sempat foto-foto saja karena cuaca yang terik, jadi urung maen aer deh. Sebelum kembali ke ferry, kami juga sempat memborong beberapa cindera mata untuk oleh-oleh saudara dan teman.

Phuket Fantasea

Tidak selesai sampai di situ, setelah mandi dan beristirahat sebentar di hotel, malamnya kami kembali dijemput untuk menyaksikan show di Phuket Fantasea. Sekilas kalau dari luar mirip seperti dufan, tapi yang datang ke sana lebih banyak turis mancanegara daripada orang lokal. Tujuan utama seluruh pengunjung di sana adalah menyaksikan show kerajaan gajah pada jam 9 malam. Jadi sebelum pertunjukan dimulai, pengunjung dimanjakan berbagai wahana pertunjukan mini yang luasnya mungkin sekitar ¾ nya dufan. Mereka mengemas taman bermain cukup menarik. Ada pertunjukan macan putih, ada pertunjukan membuat cindera mata unik, naik gajah (kalau yang ini di alun2 selatan jogja juga ada hehe), dan tentunya yang paling menarik, ada jamuan makan malam untuk pengunjung ala buffet yang sudah include in ticket.

Akhirnya pintu gerbang hall utama untuk pertunjukan telah dibuka. Ternyata kami tidak boleh membawa seluruh perlengkapan komunikasi dan alat rekam ke dalam arena pertunjukan. Semuanya harus dititipkan ke deposit counter yang telah disediakan. Selama dalam lorong panjang menuju tempat pertunjukan, kami disuguhkan lagi dengan hall of fame tokoh-tokoh dan artis terkenal dunia yang pernah berkunjung ke sana.

Palace of The Elephants

Kami yang memiliki tiket paling murah, dan diletakkan di lantai paling atas. Bentuk hall pertunjukkannya sangat luas, mirip dengan studio bioskop, tapi lebih luas 5 kali lipat. Selama acara, kami disuguhkan pertunjukan budaya Thailand kolosal dengan paduan aransemen musik yang menarik. Efek panggung yang canggih karena dekorasi dapat diganti dalam hitungan detik. Tata pencahayaan juga diperhatikan secara detail dan menarik mirip seperti dancing water yang ada di Singapura (katanya hehe). Ada efek hujan yang beneran air dijatuhkan dari atap panggung, tapi herannya, tidak membuat panggung jadi banjir. Hewan ternak seperti ayam, kambing, dan kerbau juga ikut berlarian di atas panggung dengan koreografi sempurna. Sayang kami tidak boleh merekam pertunjukan yang hebat ini.