Sea Cave

Lanjutan dari tulisan sebelumnya “Pengalaman Pertama (2nd Day)”

Hari ketiga di Phuket, menjadi kesempatan jalan-jalan kami yang terakhir. Hari itu tujuan kami adalah Pha Nga Bay, pantai yang katanya pernah digunakan untuk shooting film James Bond. Gara-gara itu juga, maka pulau ini terkenal dengan sebutan James Bond Island. Perjalanan kurang lebih 1 jam dari hotel menuju lokasi tujuan. Ternyata mobil kami tidak bisa mengantar sampai ke pulau, karena di sana merupakan gugusan pulau-pulau karang kecil yang nyaris tak berpenghuni. Kami harus menaiki boat kecil tradisional berkapasitas sekitar 10-15 orang. Pada awal perjalanan kami disuguhi hutan bakau yang cukup luas, kemudian disambut dengan pulau-pulau karang yang tampak indah dari kejauhan. Ada yang berbentuk gajah, ada juga yang mirip anjing.

Sebelum sampai ke Pha Nga Bay, ternyata kami mampir dulu untuk menikmati pulau-pulau karang secara lebih dekat dengan kano. Kami berhenti di rumah kapal di tengah laut, lalu berganti menaiki kano yang hanya cukup untuk 2 penumpang, plus satu pendayung. Saya pun mengambil formasi tandem bersama adek. Si pendayung cukup ahli meliuk-liuk diantara gugusan pulau-pulau cantik ini, bahkan kami terpaksa tidur merebah untuk bisa melewati terowongan karang yang sangat sempit. Tempatnya keren banget, rasa-rasa pengen nyebur. Si pendayung juga ahli untuk mendokumentasikan beberapa aksi narsis kami di sana. Dan asiknya, akhirnya dia orang Thailand pertama yang kami temui dengan bahasa Inggris cukup lumayan. Jadi kita bisa ngobrol dengan dia sembari dijelaskan beberapa keunikan dan kisah menarik yang dimiliki pulau tersebut.

menyusuri celah-celah karang

Lalu kami melajutkan perjalanan menggunakan boat ke Pha Nga Bay. Di sana ternyata sudah ada banyak turis-turis lain berjejalan. Kami puaskan waktu sekitar satu jam untuk mengabadikan gambar di “pulau paku” yang terkenal itu. Kami juga jalan-jalan mengelilingi pulau mencari spot motret yang keren. Di sana ada juga batu karang yang miring seperti dipotong menggunakan pisau raksasa. Pulangnya, kami mampir dulu untuk santap siang di kampung terapung yang masih satu gugusan dengan James Bond Island. Hebatnya di sana, pelayanan menyesuaikan dengan asal si tamu. Kalau tamunya dari Indo, mereka menyediakan dengan piring sendok. Kalau dari Jepang mereka siapkan dengan mangkok dan sumpit.

with my sista

Selepas dari Pha Nga Bay, kami mampir di beberapa toko oleh-oleh cinderamata, t-shirt dan makanan. Khusus untuk toko t-shirt, ini sangat recommended. Namanya Madunan T-shirt Factory, yang menjual kaos dengan tema Phuket dan Thailand. Harganya cukup murah bila dibandingan dengan kios-kios di lokasi wisata utama. Penjualnya juga fasih berbahasa Indonesia. Mereka tau aja orang Indonesia doyan belanja haha..

Akhirnya kami pun harus mengakhiri kisah perjalanan kami di Phuket. Keesokan harinya, kami sudah meninggalkan hotel pukul 5 pagi dan boarding pukul 07.50. Terima kasih untuk Mr. Yahya n his driver yang sudah menemani kami sekeluarga menikmati liburan singkat ini. Terima kasih buat bapak dan ibu yang telah bersusah payah mencari nafkah, demi pengalaman pertama saya ini.

 

Kampung Apung

Setelah ini, saya membuat janji kepada diri sendiri. Petualangan saya tidak boleh berhenti pada “Pengalaman Pertama” ini. Harus ada pengalaman-pengalaman pertama selanjutnya, untuk mengunjungi negara-negara lain di dunia. Target yang tidak mudah untuk dicapai, namun dengan menabung, hidup prihatin, kerja keras, dan berdoa semoga pengalaman lanjutan saya bisa segera terwujud dalam kurun waktu kurang dari satu tahun kedepan. Terima kasih buat Trinity atas tulisan-tulisannya yang memberiku inspirasi. Ada yang mau join? Mau join nyumbang dana juga boleh hehehe

James Bond Island

Kesan dan Pesan saya selama 4 hari 3 malam di Phuket:

  1. Pemandangan yang disuguhkan di Phuket, sebenarnya tidak lebih bagus dengan apa yang dimiliki Indonesia. Menurut saya pantai di Belitung, Karimunjawa, Raja Ampat, Derawan, Bunaken dsb masih lebih cantik dan eksotis (walaupun saya belum pernah ke pantai2 itu hehe). Namun satu yang tidak dimiliki oleh Indonesia adalah kemampuan manajemen pariwisata yang baik. Kurangnya kreatifitas dan integrasi instansi terkait untuk bisa membuat potensi besar yang dimiliki Indonesia menjadi salah satu obyek wisata terbaik Asia, atau bahkan dunia.
  2. Tingkat kesadaran tertib lalu lintas yang tinggi, turis yang datang tidak perlu dipusingkan dengan trasportasi yang semrawut. Pengalaman saya dengan ibu, ketika pergi ke warung dekat hotel. Kami hendak menyeberang jalan di zebra cross. Kami baru berdiri di trotoar dan belum menginjakkan kaki di jalan raya, namun secara kompak, semua kendaraan berhenti, memberi kesempatan kepada kami untuk menyeberang. What a nice habbit isn’t it?
  3. Orang-orang di sana kok kayaknya banyak yang ga ramah sama turis ya. Mungkin khususnya sama turis dari Asia Tenggara kali ya. Dipikirnya kita turis kere, jadi pelayanan bukan menjadi prioritas. Tentu fokus mereka lebih kepada turis-turis bule itu. Sungguh aneh..

    Thank u Phuket

  4. Kalau mau backpacker ke Phuket bisa aja, tapi siap-siap kaget dengan cost yang serba mahal, bila dibandingkan dengan Bangkok.
  5. Kendaraan umum untuk transportasi seputar phuket cuma ada tuk-tuk atau ojek. Harganya pun sering ditutuk suka-suka mereka. Paling enak kalo bisa sewa kendaraan, bisa pilih mobil atau motor.
  6. Silahkan beli T-Shirt di pabriknya. Nama tokonya Madunan, letaknya di jalan by pass arah airport, dekat dengan Germs Gallery. Harganya bisa separuh dari yang dijual di kios-kios lokasi wisata.
  7. (Kalo ini katanya). Di sana ada dua minimarket, 7eleven dan Family Mart. Katanya sih harga di 7eleven lebih murah. Warnet juga rata2 mahal, 10 ribu rupiah untuk setengah jam.
  8. Ketika hendak pulang, datang ke bandara diusahakan 2 jam sebelum boarding. Bandara di sana kecil, tapi super sibuk. Jadi ngantri untuk check in & ngurus imigrasi butuh waktu cukup lama.