Apa itu kumkum? Makanan apa lagi itu? Hehe ternyata KumKum berasal dari frase Kumpul Yuk Kumpul, sebuah wadah bagi komunitas untuk saling berbagi dan berbuat. Sebuah filosofi sederhana dengan tujuan luar biasa.

Komunitas Sioux

Kita patut berbangga akan bermunculannya komunitas hobi atau peminatan yang semakin eksis dewasa ini. Pertumbuhan komunitas diharapkan mampu membuat masyarakat memiliki banyak kanal untuk menyalurkan minatnya ke dalam bentuk kegiatan positif. Namun sayangnya setiap komunitas terkesan masih bekerja sendiri-sendiri di dalam intern komunitasnya. Padahal dengan komunikasi dan kerjasama yang ciamik, potensi-potensi yang dimiliki setiap komunitas ini bukan tidak mungkin dapat menghasilkan sebuah aksi kolaborasi yang membanggakan.

Tim LO dari Pramuka MBM

KumKum 2010 kemudian coba digagas oleh segelintir manusia yang bermimpi untuk mewujudkan sebuah wadah bagi komunitas untuk saling berbagi. Alhasil usaha dan kerja keras mereka terwujud sudah. Bertempat di Museum Bank Mandiri, Jakarta 17-18 April 2010, ajang temu komunitas akhirnya sukses dihelat. Acara yang dibanjiri sekurangnya  oleh 5 ribu pengunjung ini (data dari buku tamu), mampu membuktikan bahwa 50 lebih komunitas yang terlibat, mampu berkolaborasi dan bersinergi dengan baik. Di stand, setiap komunitas bersemangat untuk mengenalkan kelompoknya kepada komunitas lain dan pengunjung yang datang. Mulai dari komunitas Sioux yang mengenalkan ular sampai aksi membantik dari teman-teman di Membatik Yuk.

Di Stand Bazaar, beberapa komunitas juga mencoba mengkomunikasikan concern dan semangatnya melalui produk-produk lucu dan menarik. Misalkan Komunitas Kaleng Lani yang menyulap kaleng-kaleng bekas makanan atau susu, menjadi produk-produk yang bermanfaat semisal kotak tisu, jam dinding atau pigura foto dengan warna-warni yang menggoda. Ada juga komunitas Lumintu yang menampilkan tas anyaman dari plastik bekas wadah pasta gigi, hasil dari kreatifitas opa oma di panti jompo.

Buah-buahan Langka

Banyak juga komunitas yang memberikan workshop, diskusi atau atraksi menarik. Misalkan dari komunitas Education Care yang mengajak adik-adik kecil untuk merancang kota lestari dari barang bekas. Ada juga komunitas Parkour yang menampilkan atraksi ekstrem dengan memajat dan melompat di gedung Museum Bank Mandiri tanpa alat keamanan. Tentunya atraksi ini dilakukan oleh atlet Parkour yang sudah terlatih profesional. Tidak ketinggalan, aksi musik komunitas Kuno Kini dan Sanggar Roda yang mengundang decak kagum dari pengunjung.

Yang menarik, ternyata acara KumKum ini dihelat guna menyambut Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April. Walaupun begitu, acara ini justru tidak berkoar-koar atau menggunakan simbol dan slogan “Go Green”. KumKum ingin mengembalikan acara berkonsep green kepada jatidirinya. Mbak Armely, salah satu penggagas KumKum mengatakan bahwa hal ini sengaja, karena dirinya ingin, KumKum tidak mau hanya menggunakan kata “Go Green” sebagai pemanis mulut di spanduk saja, namun semangat ramah lingkungan ini ingin benar-benar diterapkan di dalam pelaksanaan acara. “Justru dengan cara seperti itu, gerakan ramah lingkungan akan dirasakan dan dialami langsung oleh pengunjung,” tandasnya.

Pilah Sampahmu

Hal ini memang nyata betul terlihat dalam gelaran KumKum. Di setiap sudut lokasi Museum Bank Mandiri, disediakan satu set tempat sampah yang terdiri dari tiga buah boks besar. Pengunjung diharapkan mampu memilah sampah yang akan dibuang sesuai dengan klasifikasi yang ada. Meja makan di area bazaar juga dilengkapi tulisan bahwa pengujung diharapkan untuk membuang sisa makanan ke tempat sampah, lalu mengembalikan piring dan gelas ke penjualnya untuk dicuci, jadi tidak ada boks makanan berbahan strerofoam yang digunakan oleh peserta bazaar makanan. Meja makan juga senantiasa bebas dari piring dan gelas kotor. Panitia juga mengajak semua komunitas untuk mengurangi penggunaan plastik pada setiap transaksi.

Tersedia juga air galon gratis di beberapa titik. Sehingga pengunjung diharapkan membawa botol minum sendiri yang dapat diisi ulang gratis di lokasi untuk mengurangi sampah botol plastik. Tidak ketinggalan ada puluhan anggota Jiro Wes (Zero Waste) yang dengan setiasa mendampingi dan mengingatkan pengujung untuk menjaga kebersihan di lokasi acara. Pengunjung juga diajak untuk membawa barang bekas (babe) atau sampah kering (sake) dari rumah, untuk disetor kepada Yayasan Yasmin yang akan memanfaatkannya untuk kaum Dhu’afa.

Aksi dari Komunitas Sanggar Roda

Dari perlengkapan yang digunakan panitia, konsep ramah lingkungan juga terbukti bukan hanya sekedar omong doang. Name tag panitia terbuat dari kain bekas spanduk, sign papan petunjuk terbuat dari kardus dan kertas bekas, rompi tim Jiro Wes dan tim Pramuka Bank Mandiri sebagai petugas LO, juga terbuat dari kain bekas spanduk. Barang-barang bekas ini, tenyata mampu disulap menjadi perlengkapan yang lucu dan menarik. Hebatnya lagi, ternyata setelah selesai acara, teman-teman panitia dengan suka rela turun tangan langsung untuk memilah-milah sampah. Mengambil sampah yang sekiranya masih bisa didaur ulang, sehingga mengurangi sampah yang dibuang ke TPA.

Akhir kata, KumKum memang benar-benar harinya komunitas. Semua komunitas dan pihak yang terlibat melakukan sinergi yang brilian demi suksesnya acara tanpa bantuan sponsor maupun dukungan EO. Pengunjung juga sangat kooperatif untuk menjaga kebersihan selama acara. Semua berbagi, semua berbuat demi kemajuan komunitas KumKum dan penyebaran kepedulian ramah lingkungan.

Foto-foto: Nefa Firman dan Adi Prabowo