Twit Racun

Siang itu.. Selasa 12 Oktober 2010, aku nggak sengaja melihat tweet dari @anwariksono kepada @theochresma mengenai ajakan touring ke lampung. Memang dasarnya seneng jalan-jalan, maka langsung aja aku samber tweet tersebut.. “ikutttt…!!”

Singkat cerita akhirnya diputuskan, kita berangkat hari Sabtu 16 Oktober 2010 dengan mengendarai motor. Gagasan yang muncul hanya berselang 4 hari sebelum hari keberangkatan. Orang mikirnya, “gila mendadak banget sih” atau “Serius, mau naek motor ke Lampung, ini kan lagi musim hujan?!”. Semua tanggapan itu kita anggap sebagai angin lalu.. lalu kita jawab dengan sok yakin.. “Kalau udah niat, hambatan apapun harus dilewatin…” padahal dalam hati, sempet mikir juga bray.. secara aku belum pernah naik motor untuk perjalanan jarak jauh, dan bener juga emang ini lagi musim yang serba geje (ga jelas). Bisa lagi panas serasa ada sejuta matahari plus disiram lahar panas gunung merapi yang mendidih 1 juta derajat celcius, tapi tiba-tiba bisa ujan deres seperti disiram air dari 5 samudera, yang dingin banget seperti lagi bugil di padang salju kutub selatan sambil minum es serut (hehe lebayyy…)

Persiapan 1

Rencana awal touring akan diikuti empat orang, tapi karena ada beberapa kesibukan, akhirnya peserta touring hanya aku dan sobat saya Anwar. Dengan waktu yang semakin mepet, persiapan pun dilakukan. Mulai dari menyusun itenerary, download peta, estimasi pengeluaran, packing, persiapan perbekalan, dan yang paling utama…. check up motor ke pak dokter Ahass. Motor harus sehat karena akan menempuh perjalanan puanjaaaaang… milyaraaaaaan…… centimeter😀

H-1 (14/20/2010).. akhirnya hari Jumat tiba. Jumat siang aku udah sampai di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat untuk melakukan koordinasi akhir bersama Anwar sebelum keberangkatan. Persiapan udah semakin matang, tiba-tiba terbesit ide gila untuk berangkat malam itu juga. Kalo kata Anwar.. “Selak kemecer pengen jalan..”. Setelah memberi kabar ke rekan kita (Ocha) di Serang, yang rumahnya akan kita gunakan untuk pit stop, kita akhirnya jadi juga berangkat malam itu jam 9. Perkiraan kami perjalanan sekitar 3 jam sampai Serang.

Menyusuri jalan Daan Mogot yang eksotis dengan pemandangan saluran kali Mookervart yang berwarna hitam menawan dengan aroma limbah nan menggoda… (menggoda ingin muntah..). Sampai Kota Tangerang kami agak sedikit bingung, karena ada sedikit perbedaan dengan rute yang sudah kami download sebelumnya. Namun insting jalanan kami berhasil menuntun ke arah yang benar.Persiapan 2

Kita terus menyusuri jalan raya Jakarta – Serang.. Anwar pemegang kendali motor, aku sebagai navigator terus melihat peta dengan tatapan setajam predator. Maklum, malem2 bray.. susah aja baca petanya. Mana kalo liat peta yang ada iri sama jalan tol. Bisa-bisanya itu jalan tol lurus terus, sedangkan jalan kita meliak liuk memutar jalan tol. Jalanan berdebu karena dilewati banyak truk.. maklum daerah jalan raya ke Serang memang kawasan industri. Kondisi dilematis, mau nutup kaca helm, jalanan gelap ga keliatan.. mau buka kaca helm, mata dijamin perih kena debu.. akhirnya aku putuskan untuk nekat nutup kaca helm, toh aku kan yang bonceng.. sementara Anwar harus mengikhlaskan matanya dijejali jutaan partikel debu hwahaha…

Bocor Ban di Cikande

Sampai di daerah Cikupa terjadilah tragedi menggemparkan.. ban belakang motor kami bocor. Nah lho!! Beruntung kami segera menemukan tukang tambal ban.. padahal saat itu sudah jam 11 malam. Ternyata ban dalam bocor di area tambalan sebelumnya, untung kami sudah membawa ban dalam cadangan. Sayangnya, kejadian tersebut membuat ban luar menjadi agak sobek di beberapa titik karena telat menyadari adanya kebocoran ban. Setelah konsultasi dengan si tukang tambal ban, dia memberi jaminan garansi ban luar yang sobek aman untuk digunakan. Kata si tukang tambal ban “Kalau ntar di tengah jalan bocor lagi, bisa kembali lagi ke sini..”. Jiahhhh haha ogah banget dah balik lagi.

Kita akhirnya melanjutkan perjalanan sambil bermanuver menghindari lubang di beberapa lokasi jalan yang rusak.. Karena kondisi jalan yang gelap dan banyak “jebakan maut” motor hanya bisa digeber dengan kecepatan 300 km per jam… dibagi lima (hehehe jayus.com). Singkat cerita pukul 1 malam kami sampai di rumahnya Ocha, Serang Barat. Meleset satu jam dari perkiraan karena tragedi bocor ban. Setelah bersih-bersih dan ngobrol sebentar sama Ocha, kami langsung tidur. Targetnya jam 4 pagi bangun, untuk bersiap melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Merak.

bersambung….