Ferry Pelabuhan Merak

Jam 4 pagi alarm berbunyi… rasanya males banget untuk bangun dari tidur. Tapi karena cita-cita pengen nyebrang Merak – Bakaheuni harus tercapai, maka seketika niat itu memberikan semangat untuk segera bergegas dari kasur dan bersiap. Setelah sarapan pop mie dan pamitan.. jam 5 pagi kami langsung meluncur ke pelabuhan Merak.

Sampai di Merak sekitar jam 6 lebih. Setelah bayar 28ribu untuk tarif ferry, kita langsung dapat antrian masuk ferry paling depan, karena ferry yang sebelumnya baru saja berangkat 5 menit yang lalu. Yahhh… tapi nggak apa2, justru kita punya waktu buat motret-motret aktivitas pelabuhan di pagi yang cerah. Setelah menunggu sekitar 20 menit, ferry yang akan kita naiki akhirnya berlabuh juga. Kata petugas Pelni yang berjaga di situ, nahkoda ferry yang akan kita naiki itu cewek.. Doi senengnya ngebut kalo bawa kapal, jadi bisa cepet sampai di Bakaheuni. Waaa mantabb.. aku langsung membayangkan ferry yang kita naiki akan melakukan aksi manuver menyalip ferry-ferry di depannya.. wuizzz drift kanan… drift kiri… ngeng.. ngeng..

Akhirnya kita masuk ke dalam lambung ferry. Motor yang masuk bersama kami saat itu hanya ada tiga. Sisanya didominasi truk-truk ekspedisi lintas Jawa Sumatera. Sopir-sopir truk itu udah lihai bray markir kendaraannya di dalam ferry.. bisa mepet-mepet banget.. ngeri juga kalo bawa mobil pribadi trus di pepet sama truk-truk raksasa itu.

Ruang VIP yang Sepiii…

Setelah parkir motor, semua penumpang harus naik ke deck ferry atas. Sambil nunggu ferry jalan, mulai lah kita beraksi fota foto lagi.. mantab banget langit pagi itu.. biru cerah dengan mosaik awan tipis berpadu lautan yang tenang di cakrawala. Penumpang ferry saat itu termasuk sedikit. Ruang VIP ber AC hanya diisi sekitar 4 orang.. ruang ekonomi non AC kosong (busett.. kapal hantu apa ya).. Ternyata penumpang lebih memilih duduk di deck bagian samping dan belakang sembari melihat pemandangan dan menikmati desiran angin laut.

Aku sempat ngobrol dengan seorang bapak sopir truk yang juga lagi duduk di deck samping. Ternyata dia orang Temanggung yang kerja di perusahaan ekspedisi di Kartasura (dekat Solo). Dia cerita jaman dulunya pernah bekerja jadi sopir truk pengantar minuman bersoda di daerah Magelang. Wah nyambung banget obrolan kita, karena aku juga lama tinggal di Magelang. Ternyata si bapak kenal juga dengan penjaga kantin di SMP ku, di Magelang, karena sering mengantar krat-krat minuman bersoda ke SMP ku. Dia mengatakan baru 2x menyebrang ke Sumatera, dan hari itu dia sedang bertugas mengantar jagung kering ke Medan,  Sumatra Utara. Saya tanya dengan polos “Berapa jam pak kira-kira perjalanan dari Bakaheuni ke Medan?”… lalu dia menjawab, “Ya sekitar 2 hari lah…”…  duengggg.. hahaha lama aja bray.

Singkat cerita sampailah kita di Bakaheuni.. ternyata bener kata bapak petugas Pelni di Merak kalo ferry yang saya naiki bisa ngebut wuzz wuzz.. Perjalanan Merak – Bakaheuni biasanya 3 jam, tetapi ferry yang kami naiki hanya butuh waktu 1 jam 45 menit saja.. salut dah buat bu nahkoda. Kalo tau deket gitu kan kita bisa renang aja… hemat ongkos.. badan sehat..😀

Dari Bakaheuni kami melanjutkan perjalanan ke Kota  Kalianda di Lampung Selatan yang berjarak 30 km. Kontur jalan ke Kalianda nanjak terus melintasi perbukitan. Banyak truk-truk angkutan barang yang kepayahan melibas tanjakan. Kita ngeri aja kalo ke-unduran truk yang ga kuat nanjak.. jalan trans Bakaheuni – Bandar Lampung yang kami lewati sebenarnya cukup lebar dan halus.. Cuma ya tetap harus hati-hati karena ada jalan yang berlubang di beberapa titik.

Pantai eMBe

Sekitar satu jam perjalanan, kami sampai juga di kota Kalianda. Sempet mampir sebentar ke pak dokter Ahass untuk mengganti ban yang sobek ketika kejadian bocor ban di Cikupa. Selesai ganti ban, kami lanjut mencari pantai yang sudah kami impi-impikan sejak berangkat.. akhirnya sampai juga di pantai Kalianda. Pantai Kalianda sendiri sebenarnya terdiri dari banyak pantai yang saling menyambung menjadi garis pantai sepanjang teluk Kalianda. Kebanyakan dari pantai-pantai yang ada sudah dikembangkan menjadi resort oleh grup jaringan keluarga Bakrie, yaitu pantai Kalianda Resort, Pantai Embe, dan Pantai Bagus. Biaya masuk ke pantai-pantai yang sudah dikuasai oleh grup Bakrie ini menjadi cukup mahal. Berkisar antara 25 ribu hingga 20 ribu per orang. Namun dengan dikelola oleh pihak swasta, memang pantai-pantai tersebut menjadi lebih tertata, rapi, bersih dan dilengkapi berbagai fasilitas pelengkap.

Sedangkan masyarakat sekitar pantai Kalianda, yang desanya harus tergusur karena pembangunan resort hanya bisa mengelola beberapa pantai kecil di sekitar resort. Kondisi pantai-pantai yang dikelola masyarakat sebenarnya cukup bagus. Namun sayang karena tempatnya yang tidak terawat dan terkesan “tertutup”, kemudian justru banyak dimanfaatkan pasangan muda-mudi sekitar untuk ber-“mesra”-an.

Oya waktu itu kita hanya berlama-lama di dua pantai saja, yaitu pantai Sapenan dan Pantai Embe, karena memang menurut kami hanya dua pantai itu yang suasanya bisa dikatakan lumayan enak dan bersih. Suasana pantai di Kalianda pada saat itu bisa cukup sepi, padahal saat itu sedang weekend lho. Jadi serasa punya pantai pribadi :p Puas renang-renang di pantai ampe sore, akhirnya kami segera melipir ke hotel yang udah di booking sebelumnya. Namanya Hotel Kalianda (ga kreatif banget ya yang kasih nama hotel, hehe). Kita dapet kamar twin bed dengan kamar mandi dalam dan fan. Bayarnya cukup 70rb saja😀

Yihaaa…

Esok paginya kami bangun subuh untuk segera meluncur ke Pelabuhan Bakaheuni, dengan tujuan biar bisa motret2 lagi di atas ferry dengan suasana matahari pagi. Sayang ternyata pagi itu langit agak mendung, jadi mataharinya tidak sebagus pas lagi berangkat dari Merak. Ferry yang kita tumpangi juga bodinya lebih besar, sehingga bisa menampung lebih banyak kendaraan dan penumpang. Kondisi ferry-nya sendiri memang sudah agak tua, dan kondisinya tidak lebih baik daripada ferry yang kita gunakan hari sebelumnya.

Sampai di Merak, kami segera meluncur ke timur.. enggak lupa mampir lagi ke rumah ocha untuk pit stop makan siang :p . Habis kenyang makan siang dan sempet leyeh-leyeh sebentar, kami pun langsung tancap gas ke arah Jakarta. Kali ini aku yang megang kendali motor, manuver kanan kiri menghindari banyak lubang di jalanan. Tidak terasa jam 3-an sore sudah sampai Jakarta lagi dengan selamat.

Akhir kata, terima kasih kepada Tuhan dan semua pihak yang telah membantu suksesnya acara Touring kali ini. Terima kasih buat Ocha n Fam yang udah mau nerima kami istirahat dan buat A*** yang berbaik hati meminjamkan motornya untuk touring :p Nantikan kisah jalan-jalan kami selanjutnya.. josssh…

Bonus: Foto-foto hasil jepretan kami

Penampakan Gunung Rajabasa

Pantai Embe lagi