Bantal basah, jadinya berat

Mengaduk sampah, memilah yang bermanfaat

 

Stand Sake Babe

Pantun maksa di atas kiranya cocok untuk memulai cerita saya kali ini. Masih seputar pesta blogger dari postingan saya sebelumnya, kisah kali ini berfokus pada kegiatan saya selama ajang kumpul-kumpul blogger pada Oktober 2010. Walaupun saya seorang blogger juga ( <- ngaku blogger, padahal jarang update postingan hehe), namun kedatangan saya di pesta blogger 2010 ini bukan sebagai peserta, namun sebagai tim jirowes (Zero Waste) dan tim penerimaan Sampah Kering dan Barang Bekas (Sake Babe) yang mengisi salah satu stand komunitas di sana.

Sake Babe yang terkumpul, akan sepenuhnya digunakan untuk bantuan kepada korban bencana alam Mentawai dan Merapi. Walaupun informasinya cukup mendadak, namun antusiasme rekan-rekan blogger untuk menyetorkan barang bekas mereka cukup besar. Satu tenda berukuran sekitar 3 x 3 meter yang kami siapkan, penuh dengan tumpukan pakaian bekas pantas pakai dan peralatan bayi. Informasi yang saya dapatkan, bantuan tersebut sudah disetorkan di posko Langsat untuk diteruskan ke lokasi bencana.

Ayo sesuaikan jenis sampahmu dengan boxnya

Soal Sampah Kering (Sake) tidak kalah serunya.. Saya dan banyak relawan lainnya sebagai tim jirowes berupaya keras agar sampah yang dihasilkan selama acara, bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin agar laku dijual ke pengepul sampah. Setiap sudut ruangan kemudian dilengkapi dengan satu set box sampah yang terdiri dari tiga wadah untuk menampung sampah kering, sampah basah, dan sampah plastik. Sehingga diharapkan pengunjung bisa bijak mementukan jenis sampah yang akan mereka buang. Setiap set box sampah ini kemudian dijaga oleh tim jirowes untuk membimbing peserta yang kesulitan membedakan jenis sampahnya.

 

Ayo dipilih.. dipilih..

Pada awalnya saya tidak ikut untuk menjaga box sampah yang tersebar di setiap ruangan, karena dari awal saya di plot untuk menjaga stand sake babe. Namun ketika siang hari, sampah mulai menumpuk, saya kemudian ikut turun tangan untuk memilah sampah dari box-box yang sudah penuh. Saya cukup terkejut karena ternyata box sampah yang masuk ke “desk” pemilahan, isinya campur aduk. Tidak sesuai lagi dengan jenis sampah yang sudah tertulis di boxnya. Terpaksa kami mulai “berenang”, mengaduk-aduk sampah bekas makan blogger yang lupa, atau mungkin malas membuang sampah sesuai dengan kategori box sampahnya. Kami memisahkan wadah plastik bekas makanan dari sisa-sisa yang masih tertinggal di dalam. Banyak makanan yang tidak habis dibuang begitu saja, sehingga menyusahkan kami dalam memiliah. Pengepul sendiri sudah tegas mengatakan kalau mereka tidak mau menerima sampah yang masih ada sisa makanannya.

Dengan tangan telanjang, kami memegang nasi, tulang ayam, saos, sisa telor untuk dipisahkan dari box plastik tempat makanannya. Kantong demi kantong sampah besar yang kami terima ternyata tidak ada yang benar-benar berisi sampah yang sesuai dengan peruntukannya. Seolah percuma saja kami menyediakan box sampah yang terdiri dari tiga bagian kategori sampah.

Botol-botol bekas air mineral yang masih ada isinya juga terpaksa kami buang karena pengepul hanya menerima botol yang kosong. Kami cukup miris karena banyak botol-botol minuman tersebut yang isinya masih banyak, bahkan ada yang mungkin baru diminum satu tegak, lalu dibuang.

Terlepas dari itu semua, kami bangga karena perjuangan “mandi” sampah tersebut tidak sia-sia. Walaupun hasil penjualan sake hanya sekitar 200 ribu rupiah, namun setidaknya nilai tersebut lebih baik dibandingkan nol rupiah jika sampah tersebut hanya berakhir percuma di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Semoga hasilnya bisa benar-benar bermafaat bagi korban bencana alam di Merapi dan Mentawai.

 

 

yak betull…
Barang Bekas dari rekan-rekan Blogger
Set box sampah

Foto-foto: courtesy Armely Meiviana