Sebelum memulai berjuang pada thesis dan skripsi masing-masing, saya dan adik memutuskan untuk backpackeran ke Bali dan Lombok selama satu minggu. Bisa dibilang ini perjalanan pertama kami pergi berdua semenjak tahun 1989 ketika adik saya lahir ke dunia. *lebay*

Perjalanannya sendiri sudah berlalu cukup lama, bulan November 2010, namun baru bisa disalurkan ke dalam tulisan sekarang karena belum dapet semangat untuk nulis lagi.

Ketika itu, pada pertengahan November 2010, kondisi gunung merapi di Jogja sedang menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanisnya. Hujan abu mulai menyelimuti wilayah Jogja, Magelang, dan sekitarnya. Sempat terbesit pemikiran untuk membatalkan rencana perjalanan ke Bali & Lombok, karena kondisi Gunung Merapi yang masih tidak dapat diprediksi. Selain karena merasa empati dengan pengungsi korban bencana, kami juga takut Bandara Adi Sucipto Jogja akan ditutup karena ancaman abu Merapi.

Plaza Wisnu

Setelah berkonsultasi dengan orang tua, kami memutuskan untuk tetap berangkat, karena memang tiket sudah dibeli jauh hari, dan sayang kalau harus dibatalkan begitu saja. Akhirnya, saya dan adik jadi berangkat ke Bali dengan menumpang Mandala (yang sekarang lagi sekarat) menuju bandara Ngurah Rai, Bali. Karena delay yang cukup lama, kami baru sampai di penginapan tempat kami bermalam di Jalan Benesari daerah Kuta, sekitar pukul 11 malam. Sampai di penginapan, kami langsung mencari makan malam, lanjut dengan istirahat guna mengumpulkan stamina untuk bermotor ria keesokan harinya.

Penginapan kami di jalan benesari ini bernama Sari Indah cottages. Kami sengaja memilih penginapan di jalan benesari karena untuk menghindari poppies lane 1 dan 2 yang terkenal dengan hingar bingarnya. Biaya menginapnya sekitar 130 ribu, dengan double bed, kamar mandi dalam dan fan. Kamarnya cukup luas dan kamar mandinya juga bersih.

Paginya, kami segera menghubungi petugas penginapan untuk menyewa motor seharian.Saya lupa berapa tarifnya, kalo tidak salah sekitar 25 ribu untuk 12 jam belum termasuk bensin.  Hari itu kami berencana untuk menyusuri daerah selatan pulau Bali yang pada kesempatan sebelumnya ada beberapa spot yang belum pernah kami kunjungi. Tujuan pertama kami adalah GWK (Garuda Wisnu Kencana).

Plaza Garuda

Dengan berbekal google maps yang sudah kami pelajari sebelumnya, akhirnya dengan niat dan nekat, maka kami mulai menyusuri bali selatan dengan motor. Selain nyasar, kendala naek motor jarak jauh di bali tuh susah nyari spbu. Sekalinya ada, eh stok bensinnya abis. Yah terpaksa beli bensin eceran di pinggir jalan. Saat perjalanan ke GWK, kami sempet mampir dulu di warteg murmer. Wah jarang-jarang kan nemu warteg di bali, langsung deh hajar dulu makanan di sana buat isi perut.

Ga lama menyusuri jalan nanjak, yang nampaknya asik kalo dibuat gowes, akhirnya sampe juga di GWK. Gerbangnya megah, kayak masuk perumahan elit. Tapi karena hari itu weekdays dan bukan musim liburan, jadi GWK hari itu relatif sepi. Bisa puas fota foto tanpa takut “bocor” manusia di background nya. Komplek GWK sendiri cukup luas yang terbentuk dari bukit kapur yang “dipotong” sedemikian rupa sehingga membentuk kolom-kolom yang mirip benteng pertahanan. Ada dua patung utama di komplek ini yaitu plaza garuda dan plaza wisnu. Dilihat dari masterplan nya sih nanti patung garuda dan patung wisnu ini akan disatukan dengan patung-patung lainnya sehingga menjadi menara patung yang menjulang tinggi. Namun proyek mercusur seorang seniman di masa orde baru ini terpaksa harus terhenti karena krisis ekonomi 1997 dan dana yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek ini memang sangat besar.

Tari Barong Show

Sebenarnya cukup nyaman untuk menikmati suasana GWK, bahkan di siang hari sekalipun. Suasana adem saya rasakan di seputar plaza wisnu karena dikelilingi oleh tempat duduk dari beton yang dinaungi pepohonan. Posisi GWK yang berada di dataran tinggi, menjadikan area tersebut memiliki hawa yang segar. Di dekat plaza wisnu ada teropong binokuler yang bisa digunakan untuk melihat landscape bali dari kejauhan. Untuk bisa menggunakan teropong ini kita harus membeli koin khusus dari petugas yang berjaga di sana.

Di area GWK ini, terdapat pertunjukan tari barong gratis. Beruntung saat itu kami datang tidak lama sebelum pertunjukan dimulai. Lumayan bisa menikmati tari bali dan tari barong gratisan, namun kami tidak menyelesaikan menonton pertunjukan sampai selesai, karena harus melajutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.. yaitu pantaiii…