Suluban

Setelah dari GWK, kami melanjutkan perjalanan terus ke arah selatan Bali. Tujuan kami adalah daerah Uluwatu dan sekitarnya. Kami terus menyusuri jalanan bali yang terkenal memang sangat mulus, dan saat itu cenderung sepi. Sehingga bisa gaspol dengan kecepatan tinggi, udah ngiler sama pantainya. Tidak lama, kami sampai juga di sebuah pertigaan. Kalau lurus terus ke arah Pura Uluwatu, kalau belok kanan menuju ke pantai Suluban dan Padang-Padang. Sempat berdiskusi sesaat, akhirnya kami memutuskan untuk skip Pura Uluwatu, dan langsung tancap gas saja ke pantai Suluban. Keputusan ini diambil karena alokasi waktu yang semakin menipis.

Setelah mengikuti petunjuk jalan yang kurang jelas mengenai pantai Suluban, sampe juga kami di jalan buntu, dimana banyak motor dan beberapa helai mobil terparkir. Ada sebuah gubug terbuka kecil di situ tempat beberapa warga lokal ngerumpi. Seorang ibu-ibu menghampiri kami dan memberikan secarik kertas kecil tanda parkir. Oww ternyata tempat itu titik terakhir kendaraan bisa berjalan, selanjutnya untuk bisa mencapai pantainya, kami harus menuruni puluhan anak tangga yang ukurannya ga proporsional banget untuk orang Indonesia. Jaraknya yang lebar dan levelnya yang tinggi, cukup membuat saya dan adik yang bertubuh mini kerepotan. Mungkin gara-gara lebih banyak turis “bule” yang datang ke sana, jadi tangganya juga dibuat lebih “bule friendly”. Turunnya sih ok-ok aja, tapi kepikiran dunk gimana nanti pas pulangnya. Setelah hora hore ria di pantai, kami harus menaiki tangga terjal tak bertepi ini.. hikss

Tangga menuju pantai suluban

Setelah menuruni puluhan anak tangga, sampai juga kami di sebuah perkampungan bule. Banyak cafe, toko souvenir, persewaan dan service papan surf, dan warung makan. Sampai sini kami agak bingung karena belum melihat tanda-tanda adanya pantai. Ternyata eh ternyata, perjalanan kami belum selesai. Kami harus menuruni tangga lagi. Kali ini tangganya lebih sempit dan di kanan kirinya terdapat batu-batu karang dan aliran sungai kecil. Tangga yang kami lewati ini di salah satu bagiannya menjadi satu dengan aliran sungai, sehingga harus berhati-hati untuk melewatinya jika tidak mau tergelincir.

Namun perjuangan kita terbayar sudah. Setelah menuruni tangga, kami langsung disambut dengan keindahan yang tak terperi. Pantai pasir putih kekuningan khas bali yang berpadu dengan lekukan batu karang pantai yang seolah membentenginya. Pantai ini relatif masih “perawan” karena masih cukup tersembunyi dan sulit diakses bila dibandingkan dengan pantai Kuta atau Sanur. Sebenernya pantai ini masih kesatuan dengan deretan pantai yang terletak di ujung barat daya bali lainnya seperti pantai Dreamland dan pantai Padang-Padang. Ciri khas pantai di gugusan ini adalah tebing karangnya yang menjulang tinggi, seolah menjadi pemisah antara pantai dengan “mainland” Bali. Sehingga tepat bila pantai di sini bila kita juluki sebagai surga yang tersembunyi.

Suluban Rock Wall

Kembali ke pantai Suluban, hari itu hanya ada sedikit turis yang berkunjung dan hampir semuanya bule kecuali saya dan adik saya tentunya. Pantai ini cocok bagi penikmat surfing dan juga penikmat ombak tenang. Lho kok bisa.. ya pantai ini memiliki ombak cukup besar, namun ombaknya tidak bisa sampai ke bibir pantai karena ada hamparan karang yang melindungi. Nah karena hamparan karang ini maka kita bisa berenang-renang santai di celah-celah karang yang membentuk seperti kolam renang.

Puas berenang dan bersantai, kami bergegas naik kembali ke parkiran untuk melanjutkan perjalanan ke pantai padang-padang. Pantai ini tidak terlalau jauh lokasinya dari pantai Suluban, dan cukup mudah ditemui karena ada tulisan besar yang cukup sederhana. Pantai Padang-padang tampaknya dikelola lebih profesional karena memiliki lapangan parkir tersendiri yang cukup luas. pantai ini juga tidak terlalu jauh dari jalan raya karena bisa terlihat dari jembatan yang lokasinya berada di tebing atas pantai. Yang membuat unik dari pantai ini adalah akses menuju ke pantainya. Hampir sama dengan pantai suluban, kita harus menyusuri tangga menurun, namun kali ini tangganya berada di celah sempit antara dua tebing batu besar. Untuk bisa melewatinya, kita harus bergantian dengan arus pengunjung dari arah yang berlawanan.

Padang Padang

Karena mungkin lokasinya yang lebih mudah diakses, maka pantai ini lebih ramai dikunjungi wisatawan. Wisatawan yang datang tidak lagi didominasi turis mancanegara, namun banyak juga turis lokal. Seperti di Kuta, di pantai ini juga banyak disewakan kursi untuk sunbathing dan banyak penjual makanan serta oleh-oleh yang berkeliaran. Jadi menurut saya, tidak terlalu nyaman untuk berlama-lama di pantai ini, kondisinya jauh lebih relaks dan alami di Pantai Suluban.

Kami pun tidak berlama-lama menghabiskan waktu di pantai ini, karena hari sudah mulai sore, takut pulangnya nyasar kalo kondisi udah gelap. Setelah menembus beberapa titik kemacetan bali, terutama di daerah sekitar Bandara Ngurah Rai, kami akhirnya sampai juga di penginapan. Setelah mandi, nyuci, dan istirahat sejenak, kami pun memutuskan untuk jalan-jalan sore aja di seputar Jalan Pantai Kuta, Kuta Square dan Legian sekalian cari makan malam dan tiket travel untuk ke Ubud esok pagi. Sesuai dengan referensi di Lonely Planet, kami menuju travel Perama di jalan Legian. Akhirnya kami membeli tiket terusan Kuta – Ubud, dan Ubud – Mataram seharga 150rb/orang. Uniknya kita bisa stop over di Ubud selama kita mau, bisa semalam atau bahkan seminggu.

Tidak lama kami berjalan kaki menyusuri jalanan di Kuta, karena esok paginya kita harus siap di pool perama jam 5.30 pagi, dan berangkat ke Ubud pukul 6 pagi.

Suluban

Suluban Pool

Celah Menuju Padang Padang

Another view of Padang Padang