Ubud Sign

Hari ketiga di Bali, kami harus bangun pukul 04.30 pagi dan segera bersiap ke pool travel Perama, karena lokasi yang tidak terlalu jauh dari penginapan, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Sampai di pool Perama ternyata udah banyak bule yang duduk-duduk di sana, saya dan adik adalah orang terakhir yang sampai di pool itu dan lagi-lagi kami the only native persons there. Pukul 5.45 kami diminta untuk naik ke bus berukuran sedang yang sudah disiapkan. Busnya cukup sederhana dan tidak ber AC, tapi karena jalan pagi, ya kami memang tidak butuh AC, bahkan cenderung lebih butuh jaket hehe.

Tepat pukul 6 bus yang berisi sekitar 10 orang itu diberangkatkan. Sempat mampir ke agen Perama di daerah Sanur, bus lalu melanjutkan perjalanan ke Ubud. Perjalanan ke Ubud sendiri ditempuh sekitar satu jam perjalanan dari Kuta. Sampai di agen Perama Ubud, ternyata hanya saya dan adik yang turun. Penumpang yang lain dan ada penumpang yang naik dari Ubud, akan melanjutkan perjalanan ke Padang Bai, pelabuhan di ujung timur Bali untuk menyeberang ke Lombok.

Perama Bus

Jungut Inn tampak luar

Dengen menenteng tas yang berat, kami pun berjalan menyusuri jalan Monkey Forest untuk menuju Jungut Inn, penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Jalanan yang menanjak semakin menambah beban kami pagi itu. Namun kelelahan kami bisa sedikit teredam karena udara di Ubud yang relatif masih fresh dan alami. Pagi itu kami melihat pemandangan aktivitas sehari-hari warga Ubud yang sedang memulai hari. Ada anak-anak kecil yang sedang berangkat sekolah dan orang tua yang sedang memasang sesajen persembahan.

Akhirnya kami sampai juga di Jungut Inn, penginapan ini tepatnya berada di jalan Arjuna, tidak jauh dari Kantor Kelurahan Ubud. Jungut Inn sendiri merupakan penginapan sederhana yang dikelola oleh masyarakat asli Ubud. Mereka hanya memiliki 3 kamar yang bentuknya mirip bungalow dengan teras yang cukup luas, dilengkapi dengan matras tidur gantung untuk leyeh-leyeh. Waktu kami menginap di sana, harga sewa kamarnya hanya 100 ribu rupiah/malam, padahal kamarnya terdiri dari satu double bed dan satu single bed, jadi bisa muat diisi sampe 3 orang. kamarnya juga sudah termasuk kamar mandi dalam, ya walaupun kamar mandinya tidak seluas dan sebersih penginapan kami sebelumnya di Kuta.

Kios Aroma Terapi dkk di Pasar Ubud

Karena harga sewa motor di Ubud 2x lebih mahal daripada di Kuta, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki saja untuk menyusuri Ubud. Karena memang Ubud sendiri desanya tidak terlalu luas, dan lokasi obyek wisatanya cukup berdekatan. Setelah beristirahat dan sarapan, kami memulai perjalanan dengan target pertama adalah Pasar Ubud. Pasar ini sekitar 90 persen pedagangnya menjual hasil kerajinan tangan dan oleh-oleh khas Bali. Sepintas mirip dengan Pasar Sukawati, namun dengan ukuran yang lebih kecil. Menyusuri pasar ini di pagi hari sungguh menyenangkan, selain karena udara di Ubud relatif dingin, penjual di pasar ini juga tidak memaksa pengunjung untuk membeli barang dagangan mereka.

Penjual makanan di Pasar Ubud

Kami cukup lama berputar-putar di pasar ini, sambil melihat-lihat bermacam pernak-pernik khas bali seperti patung, tas anyaman, minyak terapi dll. Oya di pasar ini kami sempat menyicipi penganan unik yang baru bagi kami. Saya lupa nama makanan itu, tapi yang pasti isinya ada semacam pisang, jagung manis, ketan hitam, dan cenil yang diletakkan di sebuah pincuk kemudian ditaburi air gula jawa kental dan parutan kelapa. Sepintas memang semacam jajan pasar cenil/lopis di kampung saya.

Setelah dirasa cukup membeli oleh-oleh sebagai “menu wajib” orang Indonesia pada umumnya kalo lagi jalan-jalan, kami melanjutkan untuk mencari makan siang. Dan pilihan pun dijatuhkan ke sebuah warung makan yang sudah terkenal di kalangan wisatawan yang ingin berkunjung ke Ubud. Warung apakah itu? Mari kita cari jawabannya di postingan saya selanjutnya hehe…

Patung di dekat Monkey Forest

Interior Jungut Inn

Teras Jungut Inn

Patung Kayu di Pasar Ubud

Aneka Kerajinan Tas di Pasar Ubud