Gemricik Air di Jalan Kajeng

Kenyang makan siang di Warung Ibu Oka, kami kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak. Setelah istirahat cukup, kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan-jalan perkampungan di Ubud. Jangan dibayangkan jalan kampung sumpek dan padat seperti di Jakarta. Jalan kampung di Ubud terlihat cukup tertata dengan balutan semen memanjang di sisi kiri dan kanan untuk dilewati roda mobil. Yang menarik, cor-coran semen ini dihiasi dengan cetakan nama dan batu-batu kecil. Entah nama siapa saja yang tertulis di situ, namun sepertinya itu nama-nama warga sekitar dan mungkin turis yang ada pada saat pembuatan jalan tersebut.

Kesegaran, ketenangan dan keindahan Ubud benar-benar dapat terasa ketika kita berjalan menyusuri perkampungan tersebut. Gemericik air jernih yang mengalir di sisi kiri dan kanan jalan seolah menjadi teman kita selama trekking. Kami mulai berjalan menyusuri jalan Kajeng yang tidak jauh dari Pasar Ubud. Pada awalnya kami menemui banyak penginapan dan warung makan sederhana di kiri dan kanan jalan. Sempat kami ambil gambar beberapa sign penginapan di sana, untuk dicari referensinya di internet, dan kalau memang bagus, tiada salahnya menjadi alternatif menginap suatu hari nanti kalau berkunjung ke Ubud lagi.

Cetakan Nama di Jalan Kajeng

Kami terus menyusuri jalan Kajeng, dan semakin terus ke dalam kondisinya semakin asri. Semakin banyak pohon dan sawah yang terhampar. Rencananya sih ingin mencari terraced rice field Bali yang terkenal itu, tapi entah hari itu kami tidak menemukannya.  Ya kami terpaksa berputar arah untuk kembali ke jalan raya Ubud karena ada perbaikan Jalan Kajeng, sehingga jalanan ditutup untuk sementara. Setelah kembali ke jalan raya Ubud, kami berencana untuk ke museum Antonio Blanco dan Museum Puri Lukisan, namun kami mengurungkan niat tersebut karena ternyata entrace fee nya cukup menguras dompet untuk ukuran backpacker kere seperti kami.

Sate B2 dan nasi kerucut

Setelah lelah berjalan kaki jauh, kami kembali istirahat ke penginapan, dan tidak lupa untuk menyantap p*p mie yang menjadi makanan akrab kami selama trip ini. Malamnya kami kembali menyusuri jalan utama Ubud sembari cari makan malam. Awalnya kami ingin membeli nasi padang yang sudah kita incar. Namun ketika berjalan kaki ke arah warung nasi padang, kami menemukan penjual sate di pinggir jalan, dan sepertinya lumayan laris karena dikerumuni beberapa orang lokal. Saya kemudian memberanikan bertanya sate apakah itu. Ternyata benar, sate yang sedang dibakar tersebut adalah sate babi. Oh baby again.. bisa-bisa kolesterol saia kumat nih kalo mengkonsumsi daging ini lagi. Namun karena jarang menemui penjual sate babi di Jawa, maka kami memutuskan untuk membeli dua porsi sate ditambah dua bungkus nasi. Saya lupa berapa harga satu porsinya, namun si penjual bilang, kami diberi harga “lokal” kalo tidak salah sekitar 12 ribu saja. Oya, nasinya sendiri dibungkus membentuk kerucut, dan ketika dibuka, nasinya berbeda dengan nasi pada umumnya. Nasi ini berwarna agak kecoklatan dan dicampuri dengan potongan singkong. Agak aneh sih awalnya, namun lama-lama si singkong tersebut justru memberikan cita rasa luar biasa.

Kenyang makan malam, kami lanjut packing dan segera istirahat, karena keesokan harinya kami lagi-lagi harus bangun pagi untuk naik travel Perama menuju Lombok. Ok, sampai jumpa di postingan saya berikutnya yang membahas keindahan pantai-pantai “surga dunia” di Lombok.