Lobby Backpacker Cozy Corner Guesthouse

Perjalanan meluncur menggunakan MRT dari Changi menuju tempat menginap kami di daerah Bugis memakan waktu sekitar 45 menit. Siang itu MRT yang kami tumpangi kondisinya sangat padat, maklum karena hari itu bertepatan dengan  masa weekend. Tapi walaupun padat, suhu udara di dalam MRT tetap terjaga baik dan tidak sumpek. Penumpang yang akan masuk juga tetap antri dengan tertib dan selalu memberi kesempatan pertama kepada yang akan turun. Semua itu berjalanan tertib tanpa ada petugas yang mengatur, baik di dalam MRT maupun di dekat pintu keluar masuk MRT.

Singkat cerita kami sudah sampai di stasiun MRT Bugis. Keluar dari stasiun langsung ada pentunjuk arah jalan keluar. Bisa keluar lewat Mall Bugis Junction atau langsung ke Victoria Street dan North Bridge Road. Saat itu kami agak bingung memilih jalan keluar, dan akhirnya memilih keluar via Bugis Junction. Setelah menemukan jalan keluar mall, kami juga agak bingung menentukan lokasi hostel yang akan kami tempati. Setelah mencoba tenang dan mempelajari peta secara detail, akhirnya kami menemukan Cozy Corner Guesthouse yang ternyata posisinya persis di seberang Bugis Junction. Bentuknya seperti ruko 3 lantai yang diapit oleh dua kedai makan di sebelah kanan dan kirinya.

Our triple bed

Setelah naik ke lt. 2 tempat lobi berada, kami bertemu dengan bapak-bapak Tiongkok peranakan yang bertugas siang itu. Kami menunjukkan bukti pemesanan kamar yang sudah dibooking sebelumnya. Ternyata ada sedikit kesalahan informasi, yang membuat kami harus membayar biaya tambahan sehingga total harga kamar menjadi 65 SGD/malam untuk bertiga. Ya sudah no problemo lah, karena kalau dihitung-hitung lagi, sebenernya kami ga rugi-rugi amat. Karena rata-rata kamar dormitory (berisi 4-10 kasur dalam 1 kamar) di tempat lain harganya berkisar 20-25 SGD/malam/kasur. Jadi lumayan lah kami bisa dapet kamar private dengan harga dormitory.

ruang makan

Ok kondisi kamarnya sendiri biasa aja. 1 kasur single, plus 1 bunk bed dengan 2 kasur atas bawah. Dilengkapi AC dan dua meja, kamarnya ga ada jendela, jadi AC nyala terus non stop selama kita di hostel. Di luar kamar ada fasilitas internet dengan tiga buah PC. Tapi kalo bawa laptop/smartphone, bisa juga online pake fasilitas wifi. Ada ruang makan bersama dan 5 kamar mandi/WC. Di ruang makan ada aer panas, jadi lumayan bisa bikin mie instant cup untuk menghemat. Dan memang ternyata beberapa hari ke depan, kami akan sering bikin mie instant cup di ruang makan ini hehe. Untuk breakfast standar aja cuma roti tawar plus teh/kopi. Karena roti tawarnya self service, jadi kita bisa sepuasnya makan roti tawar di sana selama persediaan ada, bisa juga menyelundupkan roti tawar buat bekal jalan2 keliling Sin :p

another angle of dining room

Setelah istirahat sebentar di kamar, kami lanjut jalan kaki ke arah Little India dan Mustafa Center. Kalo kata bukunya Mbak Claudia sih, Mustafa ini semacam komplek pertokoan luas yang buka 24 jam. Kalo dari luar sih kayaknya ini Mustafa Center biasa aja. Kayak departemen store tua. Tapi setelah masuk ebusettt. Ternyata tokonya luas banget. Bener-bener lengkap deh. Dari obat, obeng, keperluan rumah tangga, pakaian, tas, oleh-oleh khas Singapura dan masih banyak lagi. Mungkin irus, tambal panci dan sotil yang biasa dijual di kreta-kreta Indonesia juga ada. Ga kerasa hari itu kita puter-puter Mustafa Center dari siang sampe matahari ngumpet. Capek? pastinya.. tapi kami seneng bisa menikmati jalan kaki di Singapura yang ternyata iklimnya ga kalah panas sama Jakarta. Tapi bagusnya di Sin banyak orang jalan kaki, pengendara motor/mobil selalu kompak mengistimewakan si pejalan kaki. Kalo di Jakarta?? hupfff.. talk to my hand. dari Mustafa Center, kami langsung balik ke hostel untuk mengumpulkan energi betis, persiapan besok paginya jalan kaki di Sin dengan rute yang lebih sadizzz.

inside Mustafa Center

next: St. Joseph’s Church, Fountain of Wealth, Esplande and Merlion Hotel