St Joseph’s Church

Minggu, 3 April 2011. Pagi pertama kami di Singapura. Awalnya sempat kaget, jam 6 pagi, tapi langit masih gelap. Ternyata ini gara-gara waktu di Singapura yang lebih cepat satu jam dari Jakarta. Jadi jam 6 pagi di Sin serasa seperti jam 5 pagi di Jakarta. Pagi itu kami sangat bersemangat, segera mandi dan sarapan untuk bersiap walking tour keliling spot-spot utama di Sin. Oya ketika sarapan kami kami sempat berkenalan dengan bapak-bapak backpacker dari Jepang yang baru saja menghabiskan waktu di Thailand berminggu-minggu. Ada juga bule Yunani yang menjalani solo backpacking selama berbulan-bulan. Menariknya dia udah mengunjungi hampir sebagain besar kota-kota menarik di Indonesia, bahkan kami yang orang Indonesia aja ga lebih mengenal bumi katulistiwa ini daripada dia.

inside St Joseph’s Church

Perjalanan pagi itu kami mulai dengan mengunjungi St. Joseph’s Church di Victoria Street, dekat dengan penginapan. Bangunan gereja bergaya gothic church khas gereja tua peninggalan Inggris. Karena hari Minggu, kami berencana untuk ikut misa di sana. Namun ketika kami masuk dan melihat-lihat ke dalam, ada petugas gereja di sana yang memberi tahu kami untuk ikut misa di Cathedral of the Good Shepherd. Kata ibu petugas, di gereja katedral lagi ada misa pentahbisan Uskup gitu. Karena lokasinya yang tidak jauh, kami pun segera meluncur ke sana. Tapi ketika sampai sana misanya udah mulai, dan gerejanya penuh sesak. Akhirnya kami batalkan ikut misa, padahal emang dasarnya males misa hehe. Oya, sebenarnya di dekat situ ada Bras Basah Complex, tempat jualan buku-buku murah. Konon bisa dapet buku Lonely Planet second hand dengan harga super miring. tapi kami ga sempat ke sana, karena masih terlalu pagi, jadi tokonya pada belum buka.

Cathedral of the Good Shepherd

Setelah dari Good Shepherd, kami lanjut ke bangunan unik di seberangnya. Kalo dilihat sepintas bangunan ini juga mirip gereja model lama, bentuknya sealiran sama gereja St. Joseph’s Church. Tapi kalo dilihat di pintu depan justru tertulis “Chijmes: restaurant, bar and shop”. Saya sih cuma bisa menduga, mungkin ini bangunan gereja yang di belakangnya dijadikan tempat happening anak-anak gaul singapura. Wah enak banget dunk romo-romo di sana tiap malem dapet suasana dugem hehe. Tapi ternyata dari hasil googling, bangunan Chijmes itu memang dulunya dipakai sebagai biara romo-romo katolik dan kapel. Namun setelah menjalani renovasi, kompleks Chijmes ini berubah fungsi menjadi bar dan restoran. Tapi ciri fisik bangunan kapel dan biara tetap dipelihara sampai sekarang, dan konon pemerintah Singapura mendapat penghargaan dari UNESCO atas usahanya mem-preserve kompleks Chijmes ini.

Chijmes

Chijmes

Chijmes

inside Chijmes

Dari Chijmes, kami terus menyusuri Stamford Road untuk menuju Suntec City, mau liat Fountain of Wealth yang diceritakan Claudia Kaunang di bukunya. Oya by the way pada walking tour hari itu, sebagaian besar kami berpedoman pada itinerary yang ditulis Claudia dalam bukunya “Rp. 500rb Keliling Singapura”. Tapi nantinya ketauan kami ga bisa 100% bisa menjalani walking tour mirip Claudia, karena keterbatas waktu dan tenaga. Untuk menuju Suntec City lagi-lagi kami dimanjakan pemerintah Singapura. Kami tidak perlu berpanas-panas untuk menuju ke sana. Cukup berjalan saja di City Link Mall yang lokasinya berada di bawah tanah, dan mall tersebut memiliki jalan tembus menuju Suntec City. Sampai di Suntec City kami langsung nyobain air mancur buatan yang direkomendasikan Claudia itu. Katanya kalau kita berjalan mengililingi air mancur tersebut 3 putaran sambil menyentuh airnya, maka kita bisa mendapat keberuntungan. Lagi-lagi saya salut sama pemerintah/pihak swasta di Singapura yang bisa membuat wahana kreatif sehingga menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

Fountain of Wealth

Fountain of Wealth @ Suntec City

next: Esplanade and Merlion Hotel