10Perjalanan dari perbatasan Thailand sampai ke Penang sangat lancar karena jalanan antar kotanya sudah berupa jalan tol. Penang sendiri terbagi menjadi 2 bagian. Ada bagian yang berada di mainland Malaysia dengan kotanya Butterworth, dan ada bagian yang di Pulau Pinang dengan kota Georgetown sebagai pusatnya. Singkat cerita kami sampai di Penang sekitar pukul empat sore. Ketika memasuki Georgetown, aura kota tua sudah terasa. Banyak bangunan tua yang masih terawat, saling menyambung berjajar di jalan-jalan kecil khas Penang. Kami diturunkan di Love Lane, lalu berjalan kaki ke Star Lodge di Lebuh (jalan) Muntri, yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat kami diturunkan.

Star Lodge

Star Lodge

Kami menginap di Star Lodge, penginapan sederhana yang sudah dibooking jauh hari. Harga kamar yang kami tempati 50 RM. Star Lodge ini dijalankan oleh seorang bapak tua keturunan China. Kamar kami memiliki AC dan kamar mandi dalam, lengkap dengan shower air hangat. Karena sampai sudah menjelang malam, setelah mandi kami hanya jalan-jalan sebentar menikmati malam di Georgetown.

Keesokan harinya adik absen ga ikut jalan karena masih capek setelah perjalanan darat dari Krabi di hari sebelumnya. Maka saya dan pacar membeli sarapan nasi kandar ala India di dekat penginapan, sekaligus bungkus 1 porsi untuk adik. Setelah mengantar sarapan untuk adik, saya dan pacar berjalanan susur Lebuh Penang sampai ketemu sebuah pasar yang ramai dikunjungi warga Georgetown, namanya Chowrasta Market. Di pasar tersebut lebih banyak didominasi oleh warga keturunan China. Ada satu sudut tempat di pasar yang terdapat beberapa hawker street food stall. walaupun sudah sarapan, kami tetap jajan lagi di sini.. bener aja.. makanan di sana enak dan murah.

sarapan @chowrasta market

sarapan @chowrasta market

Tujuan hari itu ke Kek Lok Si Temple dan Penang Hill, maka kami melanjutkan jalan kaki ke Komtar. Gedung tertinggi di Penang yang merupakan kompleks pusat perbelanjaan, bisnis dan terminal bus Rapid Penang. Dari Komtar kami menaiki bus no. 203 dan cukup bilang ke supirnya kalau mau turun di Kek Lok Si. Tarif bus sekitar 2 RM untuk sampai di area Kek Lok Si. Dari tempat kami turun, sudah ada papan petunjuk arah jalan kaki menuju temple. Kami berjalanan kaki menanjak menyusuri lorong yang di kanan kirinya terdapat stall yang berjualan souvenir. sekitar 15 menit berjalan kaki, kami sampai sudah di Kek Lok Si temple.5

Kesan pertama saya ketika melihat tempat ini adalah… waowww.. Kompleks temple Budha yang sangat luas, artistik dan colourfull. Saya tidak bosan-bosanya untuk mengambil gambar setiap sudut temple ini. Saya dan pacar sempat melakukan doa dan menulis harapan di wish tree. Kami juga menaiki lift dengan kemiringan 45 derajat (dengan bea 4 RM return) untuk melihat patung Dewi Kuan In raksasa. Di kompleks Kek Lok Si ini kami juga sempat menaiki bangunan Pagoda yang cukup tinggi, dan dari atas Pagoda ini kami bisa melihat Georgetown dengan view yang ciamik.7

wish tree

wish tree @ Kek Lok Si

Sebenarnya setelah dari Kek Lok Si, kami berencana meneruskan perjalanan ke Penang Hill, untuk mencoba menaiki kereta lintasan menanjak dengan kemiringan hampir 45 derajat. Namun setelah tanya sana sini dan cek di internet, kami membatalkan ke Penang Hill karena sedang ada perbaikan kereta. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali saja ke penginapan menjemput adik untuk makan malam di Gurney Drive, yang katanya surganya kuliner malam hari di Penang.

Dari halte Lebuh Penang kami menumpang bus no. 103 turun di Jalan Kelawei di sebrang Gurney Plaza. Jalan kaki melewati Mall Gurney Plaza, terus saja ke arah belakang mall maka akan sampai di Gurney Drive, pusat kuliner malam dengan model misbar, gerimis bubar. Kami mencoba beberapa makanan di sana, tapi yang paling menarik adalah ketika mencoba Pasembur/Rojak, yang katanya makanan terkenal di sana. Makanan khas India ini semacam campuran gorengan, ditambah beberapa potong lobak dan timun, dan diberi saus asam manis berwarna merah. Yang unik dari warung Pasembur ini adalah gaya penjualnya yang melakukan atraksi saat memotong gorengan dan sayuran. Si penjual dengan lihai memainkan pisau nya, bahkan sempat mengarahkan pisaunya ke arah kami… ngeri.. ngeri sedap… hehe. Setelah kenyang, kami segera kembali ke penginapan dengan bus no. 103 lagi. Segera istirahat menyimpan energi untuk jalan kaki esok hari.. zzz..zzz..

Rojak @ Gurney Drive

Rojak @ Gurney Drive

Hari ketiga di Penang, kami berencana untuk berjalan kaki menyusuri beberapa obyek bangunan tua di seputar Georgetown. Puji Tuhan adek sudah sehat, sehingga bisa ikut jalan bersama saya dan pacar. Tujuan pertama kami hari itu apalagi kalau bukan Chowrasta Market again untuk sarapan pagi. Setalah sarapan, kami berjalan di pagi yang cerah dengan tujuan pertama kantor Dinas Pariwisata Georgetown untuk melihat sejarah kota ini. di kantor ini ada banyak penjelasan terkait gaya arsitektur peranakan dari masa ke masa yang ada di Georgetown. Setelah itu kami berjalan lagi melewati Museum Sun Yat Sen, yang sengaja tidak kami masuki karena bea masuk yang mahal hehe. Kami berjalan terus dengan perasaan kagum. Kagum melihat banyak bangunan tua yang masih terawat baik, dan berjajar rapi di sepanjang jalan yang kami lewati.

arsitektur pernakan

arsitektur pernakan

Perhentian kami selanjutnya adalah Khoo Kongsi, sebuah bekas tempat tinggal salah satu klan keturunan China terbesar di Penang zaman dahulu. Bea masuknya cukup mahal, 10 RM/orang, yang membuat adik dan pacar saya kaget. Setelah membeli tiket, kami diberi dua stiker untuk ditempelkan di pakaian. Namun setelah memasuki temple ini, kami takjub dengan mini museum yang mereka buat. Sangat informatif dan display yang menarik dengan efek 3D yang ciamik. Khoo Kongsi ini juga sempat digunakan sebagai lokasi shooting film “Anna and The King”, yang sebenarnya bercerita tentang Kerajaan Siam, Thailand.

Khoo Kongsi

Khoo Kongsi

Lanjut jalan lagi ke salah satu kuil tua lagi, namun saya lupa namanya apa, yang jelas kuil ini agak tersembunyi dan lokasinya cukup dekat dengan Khoo Kongsi. Terus masih berjalan kaki melewati Masjid Kapitan Keling yang sedang direnovasi. Jalan terus melewati Sri Maha Mariamman Temple, tempat doa masyarakat keturunan India. Terus menyusuri Jalan Masjid Kapitan Keling dan melewati Goddess of Mercy Temple. Selanjutnya kami berjalan ke arah Jetty menyusuri Lebuh China, yang merupakan daerah Little India nya Penang. Kami sempat istirahat sebentar di Lebuh China ini, dan membeli es teh tarik.

Akhirnya kami sampai di Pinang Peranakan Mansion. Sebuah bekas tempat tinggal peranakan China di Penang. Keluarga peranakan kaya yang tinggal di sini sebelumnya memiliki banyak sekali barang peninggalan yang too good to be forgeted. Di museum ini diperlihatkan banyak perabotan rumah tangga dengan kualitas nomor satu di jamannya. Pakaian unik yang digunakan oleh Baba dan Nyonya, juga dipamerkan dalam bentuk lukisan dan display pakaian asli. Sekilas pakaiannya mirip seperti kebaya encim khas Betawi. Oya, tiket masuk ke museum ini juga cukup mahal yaitu 10 RM, namun worthed kok.

Pinang Peranakan Mansion 1

Pinang Peranakan Mansion 1

 

Pinang Pernakan Mansion 2

Pinang Pernakan Mansion 2

Selepas dari Pinang Peranakan Mansion, kami terus berjalan ke arah pelabuhan, yang bahasa lokalnya Jetty. Tujuan kami ke Jetty ini adalah untuk membeli tiket kereta tujuan Kuala Lumpur yang akan berangkat malam itu pukul 23.00. Kami membeli tiket kelas eksekutif AC dengan harga 34 RM/orang. Setelah membeli tiket, kami lanjut menaiki Hop On Hop Off Free CAT Bus dari Jetty, turun di halte Bank Negara. Tujuan kami adalah foto-foto di Town Hall, City Hall, War Memorial, Fort Cornwallis, dan berakhir di Clock Tower Penang.

Hari menjelang malam, kami segera merapat ke Star Lodge untuk mandi. Setelah beberes, kami segera check out dan berjalan kaki membawa semua barang bawaan menuju Jetty untuk menyebrang menggunakan Ferry ke Butterworth, bagian mainland Penang, tempat dimana stasiun kereta berada. Tarif ferry dari Georgetown menuju Butterworth percuma sahaja (gratis), sedangkan untuk arah sebaliknya bayar 2 RM.

Sampai di pelabuhan Butterworth kami langsung menuju stasiun kereta. Lokasi stasiun sangat dekat dengan Jetty, hanya butuh jalan kaki 10 menit sahaja. Sampai di sana kami belum sempat makan malam, sedangkan kondisi stasiun sudah sepi, dan tidak ada satupun warung makan yang buka. Kami juga dapat kabar buruk dari kepala stasiun kalau kereta yang akan kami naiki baru akan sampai sekitar pukul 2 dini hari, alias delay 3 jam. Delay ini diakibatkan karena adanya tanah longsor yang menutupi jalur kereta. Kami bersama calon penumpang lain, beberapa diantaranya bule terpaksa mencari sudut, kursi atau apapun itu untuk tidur menunggu kereta datang. Harapan untuk bisa segera membeli makan malam di atas kereta pun hanya tinggal harapan. Tapi gak apa-apa, inilah seninya backpackeran.. hehe…

Singkat cerita kereta pun datang, kami segera memasuki gerbong dan langsung membeli makan di restorasi kereta… makanan yang tersedia tinggal nasi telor dan mie goreng yang dingin.. tapi karena lapar, akhirnya tetap kami beli, plus beli minum milo hangat…. benar-benar pengalaman yang tak akan terlupakan… terlunta lunta menunggu kereta… kedinginan… kelaparan…

Next chapter.. Kuala Lumpur: end of 12 days journey