248921_10150228903188395_7714921_nKeterlambatan keberangkatan kereta api dari Penang yang mundur sampai 3 jam membuat rencana kami selama di Kuala Lumpur menjadi gagal total. Kalau sesuai dengan rencana awal, kami seharusnya sudah sampai di KL Sentral sekitar jam 6 pagi. Namun karena delay ini, kami baru sampai jam 9 pagi. Karena kondisi itu, kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan ke Batu Caves. Setibanya kami di KL Sentral kami langsung mandi. KL Sentral sendiri memiliki shower room yang cukup bersih, walaupun kami harus menebus dengan membayar skitar Rp. 35.000 per orang untuk mandi. Namun harga segitu cukup fair karena kami dipinjami

satu ruang ganti, sandal jepit dan handuk. Lokasi shower room ini ada di dekat area locker hall di lantai basement 1, satu lantai dengan area penjualan tiket KTM Komuter.

Setelah mandi, kami memutuskan untuk sarapan, karena malamnya perut baru diisi ala kadarnya dengan makanan dingin di kereta. kemudian kami mencari food court di KL Sentral yang lokasinya ada di lantai 2. satu lantai di atas main hall. Karena sudah tidak punya banyak waktu, kami hari itu hanya jalan-jalan ke Petaling Street dan Central Market untuk membeli oleh-oleh. Sebelum ke sana, kami sempatkan untuk bersantai di KLCC dan “ngadem” di taman sekitar Petronas Tower.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. kami segera bergegas kembali ke KL Sentral menggunakan LRT. Dari KL Sentral, kami melanjutkan perjalanan menuju LCCT menggunakan aero bus yang lokasinya ada di lower ground KL Sentral. Kami akhirnya sampai di LCCT sekitar pukul 10 malam. Kami malam itu berencana menginap di LCCT bersama ratusan fakir ngemper yang lain karena penerbangan kami pulang ke Indonesia adalah pukul 07.00 keesokan harinya.

Sebagai catatan, LCCT pada tahun 2011, ketika kami melakukan perjalanan ini, kondinya masih belum sepadat sekarang. Setidaknya pengamatan saya ketika melakukan perjalanan berikutnya ke LCCT pada awal dan akhir 2013 yang lalu, saya melihat kondisi LCCT sudah sangat padat. Semakin banyak orang yang menhabiskan malam di LCCT untuk melakukan penerbangan keesokan paginya. Menurut saya, kalau tidak terpaksa sekali, pilihan menginap di LCCT bukan lagi menjadi pilihan utama, setidaknya bagi saya pribadi.

Kembali ke tahun 2011, kami ketika itu memilih satu deret kursi untuk kami tidur dengan dilengkapi trolley masing-masing sebagai sandaran kaki. Setelah menghabiskan malam di LCCT, sekitar pukul 4 pagi kami mulai bergerak. Kami mulai mencuci muka dan menggosok gigi sebelum akhirnya melakukan proses drop baggage dan masuk ke area boarding hall. Singkat cerita akhirnya sekitar pukul 06.30, adek dan pacar (yang sekarang sudah menjadi istri) saya sudah dipanggil boarding untuk penerbangan ke Yogya. Sedangkan saya juga dipanggil untuk boarding untuk penerbangan menuju Jakarta.

Akhirnya perjalanan keliling ke 3 negara Asia Tenggara selama 12 hari sukses kami jalani. Perjalanan yang diawali oleh tiket promo Air Asia sebesar Rp 10 rb (CGK – SIN) dan Rp 50 rb (JOG – SIN) ini, tidak hanya “mengunci” kami di Singapura, namun kami berhasil menjelajah Bangkok, Krabi, Penang dan Kuala Lumpur. Setelah saya renungkan kembali, tempat ke mana kami pergi bukan lagi menjadi hal yang utama, namun proses kami melakukan travelling itulah yang bagi saya sangat priceless. Pengalaman untuk melihat dunia luar, sehingga membuka pikiran kita untuk bisa melihat segala sesuatu dari banyak sudut pandang.

Akhir kata, perkenankan saya untuk mengutip dua quotes menarik, berikut ini:

“For my part, I travel not to go anywhere, but to go. I travel for travel’s sake. The great affair is to move.” – Robert Louis Stevenson

“Once the travel bug bites there is no known antidote, and I know that I shall be happily infected until the end of my life.” – Michael Palin