Kamboja… Angkor Wat.. dua keywords ini telah lama melintas lalu lalang di pikiran saya. Entah kenapa, tapi ketika itu pacar saya (yang saat ini sudah menjadi istri) juga menyimpan impian yang sama untuk bisa mendaratkan kaki di Kamboja. Bagi saya pribadi Angkor Wat adalah satu dari warisan budaya dunia yang luar biasa. Angkor Wat adalah salah satu dari banyak candi lain yang ada di dalam komplek kota tua Angkor. Kompleks Angkor ini dulunya ketika dibangun pada sekitar abad 12 difungsikan sebagai candi Hindu, namun seiring berjalannya waktu, beralih menjadi candi Budha, yang saat ini Budha merupakan agama mayoritas yang dianut warga Kamboja. UNESCO sendiri menobatkan Kompleks Angkor ini sebagai World Heritage Site dan kompleks candi terluas di dunia.

Cerita saya bermula sekitar bulan Mei 2012 yang lalu. Saya ketika itu tergabung di dalam grup whatsapp alumni SMA. Kebetulan ketika itu sedang ada promo AirAsia untuk penerbangan tahun 2013. Sempet ada wacana untuk backpacker-an bareng sama temen2 alumni. waktu terus bergulir hingga akhirnya periode penjualan tiket promo sudah akan dibuka. Karena biasanya AirAsia me-launching tiket promo pada dini hari, maka saya terpaksa harus melek sampai pagi pada hari itu. Setelah wacana berkembang, akhirnya hanya lima orang termasuk saya dan pacar yang jadi mengeksekusi tiket promo tersebut. Waktu itu kami hanya membeli tiket Indonesia (JOG and CGK) ke Kuala Lumpur (KUL) pulang pergi di bulan Maret 2013. Saat itu kami hanya berencana untuk pusing-pusing di Malaysia aja.. ada beberapa opsi tujuan, mulai dari Legoland Johor Baru, Malaka, dan Penang.

Waktu berganti hari, berganti bulan… saya lupa di bulan apa, mendadak ada promo airasia lagi. Saya iseng klik sana klik sini.. ternyata di bulan Maret 2013 ada promo tiket KUL – PNH (Kuala Lumpur – Phnom Penh) pp. Tanpa pikir panjang, setelah mengkontak pacar, akhirnya saya booking tiket tersebut dengan total jendral sekitar 109 USD untuk tiket KUL – PNH pp dua orang. Jadi kalo di breakdown, harga tiket pp satu orang hanya sekitar 600rb rupiah saja. Mengapa saya memilih tiket ke Phnom Penh, dan tidak langsung direct ke Siem Reap, kota dimana Angkor Wat berada? Lagi-lagi keputusan itu karena pertimbangan biaya tiket. Tiket ke Siem Reap dipatok dengan rate yang lebih tinggi, dan memang hal itu wajar karena Siem Reap merupakan kota  tujuan utama traveller.

Tidak lama, saya kemudian menghubungi teman-teman yang lain kalau saya dan pacar membeli tiket lanjutan ke Kamboja. Akhirnya teman2 juga ikut untuk membeli tiket lanjutan tersebut, maka fixed kami berlima akan berkelana di Kamboja, dan terpaksa harus melupakan Malaka dan Legoland. Saya pikir selama masih ada airasia, maka tiket ke Malaysia masih bisa terjangkau, sehingga di lain waktu masih memungkinkan untuk pergi ke Malaka dan Legoland. Namun kesempatan bisa mengunjungi Angkor Wat, bagi saya belum tentu dapat terulang kembali.

Singkat cerita, akhirnya tanggal 26 Maret 2013 datang juga. Saya, pacar, Patris dan Rinta berangkat dari Jogja pukul 14.00, sedangkan Kimung yang berangkat dari Jakarta, sudah sampai KL sejak pukul 11.00. Kami janjian ketemuan di KL Sentral. Kami rombongan yang dari Jogja akhirnya sampai di KL Sentral sekitar pukul 7 malam. Tanpa babibu, kami langsung bergegas ke Suria KLCC untuk makan malam dan foto2 di Petronas Tower. Ini merupakan kesempatan kedua saya dan pacar untuk mengunjungi KLCC setelah sebelumnya pada tahun 2011. Puas makan dan foto2, kami bergegas ke hostel untuk beristirahat karena penerbangan kami ke Phnom Penh pukul 07.00 keesokan harinya.

3Sixty Magz AirAsia bulan itu yang pas lagi membahas Kamboja

3Sixty Magz AirAsia bulan itu yang pas lagi membahas Kamboja

Kami menginap di POD’S Backpacker hostel yang letaknya hanya sekitar 300 m dari KL Sentral. Kamar yang kami pesan bertipe dormitory dengan kasur tingkat. karena kami sampai di POD’S sudah cukup larut malam, maka lampu kamar sudah dimatikan, dan kami harus bergegas mandi karena setelah pukul 10.30 kami tidak boleh pakai shower room karena suaranya akan menggangu tamu yang lain. Tepat pukul 4.00 kami pergi meninggalkan POD’S untuk segera menuju LCCT menggunakan aero bus dari KL Sentral.

Sekitar pukul 08.00 akhirnya kami berlima berhasil menginjakkan kaki dengan selamat di Phnom Penh. Salah satu negara di ASEAN dengan pertumbuhan ekonomi yang katanya masih banyak tertinggal dibandingkan Indonesia. Kesan pertama saya ketika sampai di Phnom Penh International Airport adalah… sepi. Sebagai sebuah ibukota, traffic pesawat yang hilir mudik ke kota ini termasuk sedikit. Walaupun sepi, kondisi bandara ini cukup rapi, bersih dan terawat. Setelah lepas dari urusan imigrasi (yang sudah bebas visa bagi pemegang passport Indo), kami segera menyewa satu tuktuk yang kami minta untuk mengantar kami membeli tiket bus tujuan Siem Reap.

Kalo tidak salah nama sopir tuktuk ini Mr.Sam.. saya sudah lupa berapa dollar yang harus kita bayar. Oya fyi walaupun Kamboja sudah memiliki mata uang sendiri, namun dollar amerika masih diterima luas. Pagi itu kami minta diantar untuk membeli tiket bus tujuan Siem Reap. Setelah sukses membeli tiket, sambil menunggu waktu keberangkatan yang masih cukup lama, kami minta diantar menuju Tuol Sleng Genocide Museum (S-21 Prison), salah satu saksi bisu kekejaman Rezim Pol Pot di Kamboja. Pol Pot adalah pemimpin Rezim Khmer Merah (Partai berhaluan komunis) yang saat itu mengkudeta pemerintahan di Kamboja. Khmer Merah menguasai Kamboja pada rentang waktu 1976 – 1979. Pada masa itu negara dijalankan dengan prinsip komunis, dan bagi warga yang menentang prinsip itu, maka hukuman mati menjadi jalan satu-satunya.

Biaya untuk masuk ke museum ini adalah 2 US $. Ketika pertama memasuki kompleks ini, aura kelam dan mencekam sudah sangat terasa. Tempat ini sebenarnya sebuah sekolah yang dialihfungsikan menjadi kompleks penjara. Kompleks penjara untuk menyiksa warga yang dianggap membangkang pemerintahan Khmer Merah. Dikabarkan dahulu ada sekitar 14.000 orang yang disiksa di tempat ini, dan hanya 8 orang yang bisa selamat (hidup). di seluruh area museum ini, masih banyak bukti-bukti kekejaman yang dilakukan Pol Pot dan pengikutnya. Mulai dari kasur setrum, tiang gantung, bak penyiksaan ke dalam air, penjara dengan ukuran sangat sempit, paku interogasi yang bisa menembus tengkorak dan bentuk kekejaman lainnya. Banyak sisa-sisa tengkorak, foto korban, dan lukisan yang mengilustrasikan proses penyiksaan di penjara ini.

Peraturan di penjara ini ketika itu, silahkan dibaca dan bayangkan penderitaan yg dialami oleh tahanan

Peraturan di penjara ini ketika itu, silahkan dibaca dan bayangkan penderitaan yg dialami oleh tahanan

Beberapa sudut penjara, sebenarnya banyak foto dan ilustrasi kekejaman rezim Khmer Merah, tapi saya tidak tega untuk menampilkannya di sini

Beberapa sudut penjara, sebenarnya masih banyak foto dan ilustrasi lain tentang kekejaman rezim Khmer Merah, tapi saya tidak tega untuk menampilkannya di sini

Saya dan teman-teman ketika itu serasa diajak kembali ke tahun 70-an akhir ketika melihat semua display kekejaman di sana. Saya tidak membayangkan bagaimana kepedihan dan penderitaan yang dialami oleh warga Kamboja ketika itu. Karena tidak tega, kami memutuskan untuk tidak berlama-lama di sana, dan segera mencari makan siang sebelum kembali ke agen bus untuk persiapan berangkat ke Siem Reap.