Bayon Temple

Bayon Temple

Perjalanan ke Siem Reap siang di penghujung Maret 2013 yang sangat panas itu kami mulai dari Phnom Penh.. Sebenarnya sejak sebelum berangkat, saya sudah riset tentang perusahaan bis apa yang terpercaya dalam melayani trayek Phnom Penh – Siem Reap pp. Banyak blog dan forum online mengingatkan bahwa tidak ada terminal bus khusus di Phnom Penh ataupun Siem Reap. Masing-masing PO bus memiliki pangkalan/titik keberangkatan masing-masing yang berbeda satu dengan lainnya. Namun ketika kami sampai di bandara Phnom Penh dan bertemu dengan tukang tuk tuk… kami langsung aja minta ke dia untuk anter ke tempat penjualan tiket bus ke Siem Reap, terserah dengan PO apa.

Ternyata keputusan kami untuk “manut” dengan tukang tuktuk adalah kesalahan.. Karena PO bus yang dia pilihkan ternyata busnya sudah tua dan terkesan agak kumuh.. bentuk busnya model bus tingkat, jadi barang bawaan diletakkan di lantai 1, lalu semua penumpang di lantai 2. Setelah dari pool, bus ini mampir di beberapa agen di seputar kota Phnom Penh untuk menaikkan penumpang. Lama perjalanan sekitar 7 jam, termasuk cukup lama karena jarak kedua kota tersebut “hanya” sekitar 300 km. Entah kenapa bus yang kami tumpangi ini tidak berani ngebut, padahal jalanan relatif sepi dan kondisi aspal juga baik. Saya perhatikan kecepatan maksimal bus ini hanya 60 km/jam. Atau jangan2 udah ga bisa ngebut ya karena udah uzur hehe… Intinya kami cukup tersiksa di dalam bus ini karena kondisi bus yang tidak nyaman. Jadi tipsnya: pilih PO bus yang cukup kredibel semacam Giant Ibis Transport, Phnom Penh Sorya dan Mekong Express. Tarif busnya berkisar di angka 12 – 15 US $.

Angkor Thom

Angkor Thom

Singkat cerita kami sampai di pool bus Siem Reap sekitar pukul 9 malam. Saat itu kami sudah dijemput oleh dua tuk tuk yang memang merupakan fasilitas dari hotel. Kami menginap di Bun Seda Angkor Villa, jaraknya tidak terlalu jauh dari Pub Street, salah satu pusat kehidupan malam di Siem Reap. Karena tiba di penginapan sudah malam, maka kami membatalkan acara esok pagi untuk menyaksikan sunrise di Angkor Wat, ikhlas aja ke sananya agak siangan. Malam itu kami langsung cari makan malam di deket hotel trus langsung tepar setelah 7 jam di bus.

Esok paginya setelah sarapan kami kembali dijemput oleh tuk tuk yang semalam mengantar kami ke hotel. Hari itu kami janjian untuk sewa mereka mengantar kami keliling komplek Angkor sampai sore. Sekilas tentang komplek candi Angkor yang merupakan salah satu dari delapan keajaiban dunia. Angkor ini merupakan kebanggaan bangsa Khmer yang dahulu dikenal kuat dan mengusai banyak wilayah di Indochina. Komplek ini memiliki ratusan candi yang sampai sekarang masih bertahan. Dari komplek ini, candi yang paling terkenal tentu saja Angkor Wat. Candi ini bahkan digunakan Kamboja sebagai lambang negara yang tertera di bendera mereka. Bentuk komplek ini persegi empat berukuran 1,5 km x 1,3 km yang dikelilingi oleh sungai buatan. Komplek ini terdiri dari tiga level yang dibangun oleh Raja Suryavarman II pada tahun 1113. Ada satu kejadian ketika kami berjalan jalan di komplek ini, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak  tanpa ba-bi-bu mengiring kami ke sebuah sudut dan memberikan memberikan dupa kepada kami untuk berdoa kepada salah satu patung di situ. Awalnya kami tidak sadar bahwa itu sebuah jebakan, bahkan saya dengan polosnya mengambil gambar teman-teman saya yang sedang berdoa sambil menyalakan dupa. Walaaa  ternyata kami harus membayar dupa itu sekitar 2 US $ per orang, sungguh jebakan batman.

Ta Prohm

Ta Prohm

Setelah dari Angkor Wat kami meneruskan ke Angkor Thom, di sini kami hanya stop over saja, karena candi ini sebenarnya semacam tembok keliling yang di setiap pintu gerbangnya terdapat candi-candi representasi dari angel dan demon yang siap berperang. Tembok ini sendiri dibangung untuk melindungi kerajaan Angkor dari serangan kerajaan lain. Setelah dari Angkor Thom, kami masuk ke dalam komplek dan mampir di candi Bayon. Menurut saya candi ini yang paling unik karena terdiri dari banyak tower, dan setiap towernya memiliki ukiran wajah di keempat sisinya. menurut cerita yang saya baca, bentuk wajah ini ingin menunjukkan kebesaran sang raja yang memimpin dengan prinsip humanis.

Setelah dari Bayon kami langsung melanjutkan pertualangan ke candi Ta Prohm. Candi ini menjadi sangat ikonik karena dijadikan tempat lokasi shooting film Tomb Raider. Yang menjadi ciri khas dari tempat ini adalah akar pohon yang melilit sebagian tembok candi, sehingga menimbulkan kesan mistis untuk candi tersebut. Akhirnya kami mengakhiri perjalanan hari itu dengan mampir ke kios oleh-oleh yang ada di tepi Sra Srang, yang dulu kala dikenal sebagai tempat mandi kerajaan. Mungkin fungsinya mirip dengan Tamansari Yogya, namun yang di Angkor ini ukuran kolamnya sangat besar, dan hampir menyerupai danau.

Saat itu tenaga kami sudah terkuras habis karena hampir di semua lokasi kami harus berjalan jauh mengitari setiap komplek candi yang sangat luas dengan berjalan kaki. Sebenarnya perlu waktu sekitar 2-3 hari untuk bisa menjelajahi seluruh candi di komplek Angkor ini. Namun apadaya, kami memiliki waktu yang sangat terbatas.

Bayon

Bayon

Tips setelah seharian keliling Komplek Angkor :

1. Jangan lewatkan sunrise di Angkor Wat, kalo yang suka landscape fotografi, worth it banget.

2. Bawa bekal minum yang banyak, harus lebih dari cukup pokoknya. minimal satu orang bawa 1,5 liter air minum.  Karena kondisi cuaca yang panas dan terik. ditambah kita harus banyak jalan kaki.

3. Harga makanan dan minuman di area komplek Angkor mahal dan kurang mengugah selera, kalau mau hemat sudah bawa bekal makan siang sejak pagi. kalau terpaksa harus makan di dalam komplek Angkor, makanlah.. karena anda bentul-betul butuh tenaga ekstra.

4. Pelajari dulu sekilas tentang candi ini sebelum anda datang, itu akan sangat membantu.

5. Ada beberapa tempat belanja di komplek Angkor Wat, pintar-pintarlah menawar dan jangan takut untuk pura-pura pergi berlalu jika penjual tidak memberikan harga yang anda inginkan, karena sejurus kemudian mereka akan memanggil anda.

 

Sekian cerita saya tentang Komplek Angkor, semoga bisa menjadi referensi destinasi travelling anti mainstream🙂